Tuesday, January 3, 2017
Sistem Perkawinan Simalungun Tempo Dulu
Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd
1. Kerajaan Silou berdiri sekitar abad 13, rajanya bermarga Purba Tambak menjemput isteri puteri Raja Nagur marga Damanik Rampogos.
2. Kerajaan Batangiou berdiri sekitar abad 12, rajanya bermarga Sinaga mengambil isteri puteri Raja Nagur marga Damanik Rampogos. Setelah Nagur mengalami kemunduran, Batangiou menjemput isteri dari Kerajaan Bandar marga Damanik Bariba.
3. Kerajaan Siantar berdiri sekitar abad 14, rajanya bermarga Damanik Bariba menjemput isteri puteri Tuan Silampuyang marga Saragih Sidabuhit (Sidauruk).
4. Kerajaan Tanoh Jawa berdiri sekitar abad 14, rajanya bermarga Sinaga Dadihoyong menjemput isteri puteri Raja Bandar marga Damanik Bariba.
5. Kerajaan Panei berdiri sekitar abad 14, rajanya bermarga Purba Sidasuha menjemput isteri puteri Raja Siantar marga Damanik Bariba. Sebelumnya leluhur Purba Dasuha yaitu Tuan Suha Bolag menikah dengan puteri Raja Nagur marga Damanik.
6. Kerajaan Dolog Silou berdiri sekitar abad 17 rajanya bermarga Purba Tambak menjemput isteri puteri Raja Raya marga Saragih Garingging. Sebelum menjadi kerajaan, leluhur Dolog Silou yaitu Tuan Timbangan Raja pada awalnya menikah dengan puteri Penghulu Pintu Banua boru Barus dan juga puteri Raja Nagur dari Parti Malayu marga Damanik Malayu.
7. Kerajaan Raya berdiri sekitar abad 15, rajanya bermarga Saragih Garingging mengambil isteri puteri Raja Panei/Tuan Bajalinggei/Guru Raya boru Purba Sidasuha. Sebelum menjadi kerajaan, leluhur Saragih Garingging yaitu Tuan Sipining Sori pada awalnya menikah dengan puteri Raja Silou marga Purba Tambak.
8. Kerajaan Padang berdiri sekitar abad 17, rajanya bermarga Saragih Sidasalak menjemput isteri puteri Raja Silou marga Purba Tambak.
9. Kerajaan Purba berdiri sekitar abad 16, rajanya bermarga Purba Pakpak menjemput isteri puteri Raja Siantar dan Raja Sidamanik marga Damanik Bariba.
10. Kerajaan Silima Huta berdiri sekitar abad 17, rajanya bermarga Purba Girsang menjemput isteri puteri Raja Raya marga Saragih Garingging dan Tongging marga Munthe. Sebelum menjadi kerajaan, leluhur Purba Girsang yaitu Datu Parulas/Pangultopultop pada awalnya menikah dengan puteri Tuan Naga Mariah marga Sinaga.
11. Kerajaan Sidamanik berdiri sekitar abad 18, rajanya bermarga Damanik Bariba menjemput isteri puteri Tuan Silampuyang marga Saragih Sidauruk (Sidabuhit).
12. Partuanon Bajalinggei berdiri sekitar abad 17, rajanya bermarga Purba Sidasuha menjemput isteri puteri Tuan Nanggar Raja (Naga Raja sekarang) marga Damanik.
13. Partuanon Dolog Batu Nanggar berdiri sekitar abad 18, rajanya bermarga Purba Girsang menjemput isteri puteri Raja Siantar marga Damanik Bariba.
14. Partuanon Aji Sinombah berdiri sekitar abad 14, rajanya bermarga Munthe menjemput isteri puteri Raja Silou marga Purba Tambak, kemudian puteri Raja Purba marga Purba Pakpak. Sebelum menjadi kerajaan, leluhur Munthe pada awalnya menikah dengan puteri Raja Silahi Sabungan.
Selain itu kerajaan luar yang tertarik menjemput isteri dari Simalungun, antara lain:
1. Sultan Deli ketiga yaitu Tuanku Panglima Paderap (1698-1728) menikah dengan puteri Raja Silou marga Purba Tambak yang bergelar Puan Sampali. Dari hasil pernikahan ini melahirkan Tuanku Usman Johan Alamsyah Kejeruan Junjungan pendiri Kesultanan Serdang tahun 1723.
2. Sultan Asahan kelima yaitu Sultan Dewasyah (1765-1805) menikah dengan puteri Raja Tanoh Jawa marga Sinaga, namun tidak memiliki keturunan.
3. Sultan Asahan kedelapan yaitu Sultan Muhammad Husinsyah (1813-1859) dengan Telaha puteri Raja Buntu Panei.
4. Tengku Tan Abdurrahman (Tan Deraman) putera Radin Inu (Raja Pulau Brayan) Medan menikah dengan Wan Timah puteri Raja Dolog Silou marga Purba Tambak.
5. Tengku Pangeran Muhammad Yasin (Mat Yasin) menikah dengan Puang Zainab saudari Datuk Tanjung Marawa marga Saragih Sidasalak dan melahirkan seorang puteri bernama Tengku Ngah Ramlah yang menikah dengan Tengku Bendahara Muhammad Nur.
6. Sultan Deli kesembilan yaitu Tengku Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (1873-1924) menikah dengan puteri Simalungun marga Purba yang bergelar Puan Kecik. Sultan Makmun Al-Rasyid merupakan pendiri Mesjid Raya Al-Mashun Medan tanggal 21 Agustus 1906.
7. Sultan Serdang kelima yaitu Tengku Sulaiman Syariful Alamsyah (1879-1946) menikahi dua orang puteri Simalungun, pertama puteri Tuan Bah Perak yang bernama Encik Kurnia boru Purba Pakpak dan dari Raya bergelar Encik Raya boru Purba. Dari hasil pernikahan dengan Encik Kurnia melahirkan dua orang anak yaitu Tengku Puteri Nazry dan Tengku Rajih Anwar (putera mahkota) yang menggantikan ayahnya sebagai Sultan Serdang. Sedang dari hasil pernikahan dengan Encik Raya melahirkan Tengku Zahry dan Tengku Syahrial.
Demikian sekilas sistem perkawinan di Simalungun pada zaman dahulu sewaktu masih eksisnya kerajaan. Demi menjaga keaslian keturunan dan lestarinya budaya Simalungun, orang Simalungun pada zaman dahulu menikah dengan sesama Simalungun. Hal itu terus berlangsung hingga meletusnya Revolusi Sosial 3 Maret 1946.
Ringkasan Sejarah Pernikahan suku Karo dan Simalungun
Oleh: Masrul Purba Dasuha
1. Tuan Timbangan Raja Purba Tambak yang didudukkan sebagai penguasa di Silou Dunia dan merangkap sebagai panglima perang (Raja Goraha) Kerajaan Silou menikah dengan puteri Penghulu Pintu Banua (saudara dari Sibayak Jambur Lige) bernama Bunga Ncolei dari klan Karokaro Barus. Sejak masa pemerintahan Tuan Bedar Maralam, Kerajaan Dolog Silou Dunia yang pada masa itu beristana di Dolog Marlawan, Silou Kaheian menjenguk permaisuri ke Kerajaan Raya. Pada masa berikutnya Karokaro Barus beralih menjadi anak boru dari Purba Tambak dan kalangan Tarigan Tambak yang berdiam di perbatasan daerah Simalungun-Karo tetap menjadikan Karokaro Barus sebagai kalimbubu.
2. Sebelumnya salah seorang keturunan Purba Tambak yang berdiam di Tambak Bawang ada yang menikah dengan salah seorang puteri Karo dari Suka Nalu dan memperoleh lima orang anak. Putera sulungnya bergelar Ompung Nengel yang memiliki gangguan pendengaran dan putera kedua adalah seorang yang sakti, sepeninggalnya sosoknya dikeramatkan (sinumbah). Adik mereka yaitu Nai Horsik, Si Boru Hasaktian (pemilik pemandian keramat yang ada di Tambak Bawang), dan putera bungsu pergi ke Sukanalu ke kampung pamannya, keturunannyalah Tarigan Tambak yang ada di Sukanalu dan Kebayaken. Ompung Nengel merupakan leluhur Tarigan Tambak yang ada di Tambak Bawang dan Bawang, Kecamatan Dolog Silou.
3. Marga Munthe dari Tongging dan Aji Sinombah (Ajinembah sekarang) selama beberapa generasi mengambil isteri puteri Raja Silou (Purba Tambak). Setelah Kerajaan Silou mengalami kemunduran pihak Ajinembah kemudian mengambil isteri dari Kerajaan Purba baik puteri raja (panak boru) di Pamatang Purba maupun dari Partuanon Purba Hinalang, dan Parbapaan Hinalang. Pining Sori (Munthe Tongging dan Ajinembah menyebutnya Si Raja Sori) leluhur Raja Raya merupakan keponakan (panogolan) dari Raja Silou (Purba Tambak). Ia pindah ke Raya Simbolon akibat terjadi konflik keluarga di Ajinembah, bersama dengan 6 orang pembantunya ia pindah ke Kerajaan Silou yang diperintah pamannya. Dalam perjalanannya menuju Raya Simbolon, dia bersama rombongannya sempat singgah dan menetap di kampung Garingging, kemudian meneruskan perjalanan hingga sampai Tingkos (Cingkes), salah seorang keturunan marga Purba Sigumondrong bergabung dalam rombongan mereka. Dari Tingkos mereka kemudian melintasi Purba Tua lalu sampai di Hinalang, salah seorang keturunan marga Sitopu tertarik mengikuti rombongan mereka. Dari sinilah awal kisah adanya Purba Sigumondrong dan Sitopu di Raya. Sesampainya di Raya Simbolon, Pining Sori sudah menemukan komunitas Saragih Sumbayak yang menjadi penguasa di Raya Tongah dan di Sipoldas dan Silampuyang juga sudah ada kelompok Saragih Sipoldas dan Saragih Sidabuhit yang merupakan leluhur Saragih Sidauruk.
4. Munthe dari Ajinembah merupakan tondong (Karo: kalimbubu) dari leluhur Karokaro Barus, Karokaro Sitepu, dan Karokaro Purba, sedangkan Munthe dari Tongging adalah tondong dari Purba Girsang di Si Lima Huta, hal inilah yang mendasari adanya tanah Purba Girsang di Tongging dan sekitar Si Pitu Huta Kecamatan Merek. Keturunan Purba Girsang yang menikah dengan boru Munthe dari Ajinembah disebut-sebut adalah manusia bunian yang sakti. Dari sinilah awal kisah lahirnya legenda Tarigan keturunan umang di tanah Karo yang sebenarnya hanya merujuk pada keturunan Purba Girsang/Tarigan Girsang/Tarigan Gersang.
5. Tondong pertama leluhur Munthe adalah marga Silalahi, Raja Silahisabungan memberikan tanah kepada Munthe di daerah Si Pitu Huta untuk tempat tinggal. Setelah berdirinya Urung Ajinembah, marga Munthe beralih mengambil isteri dari Kerajaan Silou (Purba Tambak),.kemudian disusul puteri Raja Purba, Tuan Hinalang, dan Purba Hinalang (Purba Pakpak) seperti yang saya uraikan di atas. Marga Munthe merupakan leluhur marga Sigalingging dan Sitanggang, di Simalungun keturunan Sigalingging menjadi Saragih Garingging. Sedang dari keturunan Sitanggang muncul Saragih Manihuruk, di tanah Karo jadi Ginting Manik.
6. Beberapa orang keturunan Purba Pakpak dari Parbapaan Hinalang mengambil isteri dari klan Karokaro Sinulingga dan Karokaro Sitepu dari Sukanalu. Keturunan Purba Pakpak dari Hinalang ini pada zaman dahulu sering berniaga kerbau ke Sukanalu dan daerah Karo yang lain. Ketika mereka menikahi puteri Sinulingga dan Sitepu, saudara lelaki mereka ikut menyertai dan hal itu diwajibkan dalam adat Simalungun, di mana setiap wanita yang dinikahi oleh kaum pria Simalungun wajib mengikutsertakan saudara prianya untuk mendampinginya di kampung suaminya. Kehadiran kedua marga ini diikuti oleh Karokaro Barus yang sengaja datang untuk mencari kehidupan baru di Hinalang, agar dapat menetap di Simalungun mereka kemudian menyatu dengan marga Sitepu. Dari sinilah awal kisah adanya marga Lingga, Sitopu, dan Barus di Simalungun yang berawal dari kampung Hinalang di Kecamatan Purba. Pada zaman dahulu, ketiga marga ini berinduk pada marga Sinaga, namun pasca revolusi sosial tahun 1946 ketiga marga ini memisahkan diri dari Sinaga dan menjadi marga yang mandiri. Marga Lingga dan Sitopu tetap menjadi Simalungun, sedang marga Barus belakangan ini banyak yang kembali menjadi suku Karo.
Friday, November 4, 2016
Hikayat Tuan Barotbot dan Si Malangu
(Sebuah Folklore Dari Simalungun Hataran)
Oleh: Masrul Purba Dasuha
Pada zaman dahulu berdiamlah suatu kelompok marga Damanik Barotbot di lingkungan Kerajaan Bandar, mereka mendiami suatu tempat bernama Taran Manik. Mereka merupakan penduduk awal sebelum kehadiran marga Damanik Bariba dari Kerajaan Siantar dan sisa-sisa keturunan Nagur. Eksistensi mereka terdesak setelah kehadiran Tuan Bonas Mahata Damanik putera Tuan Na Martuah Damanik, Raja Siantar yang mendirikan Kerajaan Bandar. Selama ini hubungan antara mereka berjalan baik dan harmonis, rakyat Barotbot patuh dan tunduk terhadap kekuasaan Raja Bandar, namun belakangan muncul pemimpin baru di tengah-tengah mereka yang sangat mendambakan kekuasaan yang dikenal dengan julukan Tuan Barotbot. Untuk menarik simpati rakyatnya, ia lalu mengusung propaganda "Damanik Rampogos adalah penduduk asli lebih berhak sebagai penguasa daripada pendatang" dan menghasut mereka agar pro kepadanya dan sama-sama melakukan makar mengkudeta Raja Bandar. Gerakan ini akhirnya kian mendapat dukungan penuh dari rakyatnya, akan tetapi konspirasi ini belum tercium oleh pihak kerajaan. Meski mereka sama-sama dari golongan marga Damanik, namun hal itu tidak menyurutkan langkah Tuan Barotbot untuk merencanakan pengkhianatan, dia bersama rakyatnya tetap tidak rela tanahnya dikuasai pihak lain. Untuk memuluskan langkahnya, ia berniat membunuh Raja Bandar. Bersama rekan-rekannya, rencana makar pun dirancang, yaitu dengan mengadakan perjamuan kepada Raja Bandar. Ia lalu menyuruh anggotanya untuk menyampaikan pesan kepada raja tentang acara perjamuan, tanpa ada kecurigaan dengan senang hati Raja Bandar menyetujui niat baik dari Tuan Barotbot. Pada perjamuan itu, Tuan Barotbot akan membubuhkan racun pada makanan yang akan disantap raja, di benaknya bila raja mati maka kekuasaan akan dengan mudah ia peroleh.
Segala persiapan untuk melangsungkan acara dilakukan dengan sungguh-sungguh berikut tipu daya untuk membunuh Raja Bandar. Tuan Barotbot memanggil seorang tukang daging (parjuhut) dan melakukan kesepakatan rahasia dengannya. Di atas jembatan Bah Pamujian, tidak begitu jauh dari istana raja (rumah bolon), Tuan Barotbot menyuruh Parjuhut agar menaburkan racun ke dalam makanan yang akan disantap raja. Ia berkata: "Tirtiri ma holi sibiangsa on hubagas panganonni rajatta ai..! sapah na ipalit ma holi baen tandani". Racun pembunuh itu bernama Sibiangsa, sejenis racun yang sangat berbahaya dan mematikan yang biasa digunakan untuk meleburkan tanah. Tanpa mereka sadari ternyata percakapan mereka didengar oleh seorang pria bermarga Saragih yang berada di bawah jembatan tersebut. Pria ini mengidap penyakit kulit yang disebut purupuruon, kala itu ia sedang membersihkan tubuhnya di sungai Bah Pamujian. Oleh penduduk setempat, pria ini digelari Si Malangu yang berarti orang yang berbau tidak sedap. Karena penyakit yang diidapnya, ia selalu dihardik dan dicerca oleh penduduk dan dianggap manusia yang tidak berharga. Setelah selesai membersihkan diri, Si Malangu lalu memberanikan diri pergi menuju istana untuk menemui Raja Bandar dan menceritakan niat jahat dari Tuan Barotbot.
Sesampainya di halaman istana, Si Malangu langsung dihalau oleh para pengawal istana, kehadirannya menimbulkan kemarahan mereka, namun mereka tidak sampai memukulnya. Si Malangu tetap tidak menyerah, ia terus saja memohon agar diperkenankan bertemu dengan raja. Para pengawal lalu bertanya padanya: “Lahou mangaha do ho hujon o Malangu? Hambus ko hunjon, ulang dohor-dohor ho hu rumah bolon on!". Si Malangu menjawab: "Lahou manjuppahi rajatta do au lo ambia". Para pengawal tersebut tetap saja melarang dan menghalaunya dan berkata: "Babahmin ma, lahou manjuppahi raja nim, ise gakni ho ase pag ho manjuppahi raja? Ulang be buei hatamu ijin, hambus ma ho hunjon Malangu!... Sedo ijon iananmu, ulang soppat hutoppaskon holi babahmin". Si Malangu tetap bersikeras dan tidak mau mengindahkan larangan mereka. Mendengar keributan di luar, sang raja lantas memanggil salah seorang pengawal untuk memberitahukan keadaan yang terjadi, pengawal lalu berkata: "Amba Janami, dong si Malangu i balui. Nini gan lahou pajuppah pakon Janami, dong gan na porlu lahou sahapkononni". Raja pun menjawab: "Anggo sonai suruh ma ia hubagas", pengawal tersebut akhirnya memperkenankan Si Malangu untuk masuk. dengan menundukkan tubuhnya perlahan Si Malangu menaiki tangga istana menuju ke hadapan sang raja sembari bersimpuh. "Aha do nai na mambaen ho ase roh kujon ale Malangu?" tanya raja. "Amba ale janami 3x... lang janami... lang", sahut Si Malangu. Raja kembali bertanya: “Patugah ma ale Malangu! Ulang pala mabiar ho. Aha do nai na lahou patugahonmu bakku?". Dengan diliputi rasa takut, ia terdiam sejenak dan termangu-mangu sambil bersimpuh sembari berkata: "Amba ale janami 3x..., sonon ge ale Janami, sanggah itoruhni hitei ai au paliaskon akkulakku, hutangar Tuan Barotbot lahou pamanganhon Janami pakon Sibiangsa". Mendengar ucapan Si Malangu, sang raja sangat terkejut namun ia tidak panik karena ia menganggap itu hanya omong kosong Si Malangu saja. Sang raja lalu berkata: "Ai ra dong na pag mambaen sonai bakku lo ambia...? Seng tongon ai ambia". Si malangu kembali meyakinkan sang raja dan berkata: "Amba ale Janami 3 x, tongon do ai ale Janami, tongon do ai.... ale Janami”. Ia menjelaskan: "Sapah na ipalit ma holi tandani panganon na inahi sibiangsa ai, ale Janami". Raja pun mulai yakin meski sangat terkejut, akan tetapi ia berusaha untuk tidak panik. "Tupa ma bai tugahtugahmai o Malangu, anggo sonai mulak ma ho!", ujar raja kepada si Malangu.
Si Malangu dengan menunduk mengundurkan diri dari hadapan Raja Bandar. Karena kuatir akan keselamatannya, ia lalu pergi menjauh ke dalam hutan. Sang raja lalu bertitah agar penjagaan di istana lebih diperketat, para hulubalang pun turun memeriksa kesiapan dari para pengawal dan prajurit bagian pengamanan. Bersama dengan para pembesar kerajaan (Harajaan), yaitu Tuan Nagodang, Tuan Rumah Suah, dan Tuan Kahaha serta para Parbapaan Bandar yaitu Tuan Bandar Sahkuda, Tuan Mariah Bandar, Tuan Naga Bandar, dan Tuan Bandar Tongah. Sang raja lalu menceritakan kisah yang didengarnya dari Si Malangu mengenai rencana jahat dari Tuan Barotbot. Mereka sangat terkejut dan sama sekali tak menyangka Tuan Barotbot berani melakukan itu. Mereka lalu menganjurkan agar sang raja tetap saja mengikuti jamuan makan yang ditawarkannya untuk membuktikan kebenaran cerita dari Si Malangu. Raja pun menyetujuinya dan meminta mereka agar berwaspada akan berbagai kemungkinan ancaman yang akan terjadi. Waktu perjamuan makan pun sudah dekat,
Tuan Barotbot bersama para pengawalnya dari kampung barotbot bergegas menuju ke istana Raja Bandar yang berjarak sekitar 15 km dari kediaman mereka. Sembari menanti kehadiran Tuan Barotbot, di istana sudah berkumpul para pembesar kerajaan, mulai dari Harajaan, Raja Goraha, Parbapaan, Partuanon, Pangulu, Guru Huta, Puanglima, Parsaholat, Gamot, dan keluarga kerajaan seperti puang bolon, panak boru, dan para dayang-dayang. Kerumunan rakyat bandar memadati halaman istana raja bandar untuk menyaksikan acara tersebut. Tidak lama kemudian, Tuan Barotbot pun tiba bersama pasukannya, pihak kerajaan lalu menyambut kedatangan mereka seperti biasa. Acara perjamuan pun siap untuk dilaksanakan, penjagaan dan kewaspadaan para pengawal istana juga sudah disiagakan. Berbagai jenis makanan dan minuman sudah tersaji, tukang daging yang bertugas menyiapkan makanan yang mengandung racun sibiangsa itu juga sudah menempatkannya di meja raja.
Kini waktunya untuk menikmati hidangan, Raja Bandar bersama Tuan Barotbot duduk satu meja, Tuan Barotbot lalu mempersilakan raja agar mulai mencicipi makanan sembari memutar meja agar piring yang mengandung makanan beracun tersebut berhenti di depan Raja Bandar. tidak mau kalah dengan Tuan Barotbot, raja yang sudah mengetahui niat jahatnya berusaha menghindari piring makanan yang mengandung racun tersebut. Ia bisa mengenalinya dengan tanda yang ditaruh di bawah piring. Demikian juga Tuan Barotbot, ia berusaha mengelak saat makanan itu berhenti di depannya. Demikianlah berulang-ulang makanan yang mengandung racun Sibiangsa itu selalu saja berhenti di depan Tuan Barotbot. Demi menjaga rasa malu dan takut kedoknya terungkap, makanan beracun terpaksa harus disantapnya. Racun tersebut seketika langsung bereaksi dalam tubuh Tuan Barotbot. Ia lalu mohon diri kepada sang raja hendak kembali ke kampung Barotbot. Dengan perasaan penuh rasa malu dan kecewa berat karena rencana busuknya gagal, Tuan Barotbot bersama pasukannya kembali tanpa hasil. Racun yang mestinya dimakan raja, justru malah dimakannya sendiri. Senjata pembunuh yang dibuatnya justru membunuh dirinya sendiri. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Keadaan itulah yang menimpa tuan barotbot. Di tengah perjalanan, tubuhnya pun mulai sempoyongan, di tengah jalan racun itu dimuntahkannya, tanah tempat muntahan tersebut meledak dan membentuk lubang besar. Dalam kondisi demikian, ia tetap berusaha melanjutkan perjalanan, hingga mendekati kediamannya ia kembali memuntahkan racun itu dan kembali membentuk lubang besar. Tidak lama kemudian, ia pun terjerembab jatuh dari kudanya ke dalam lubang tempat muntahan tadi dan meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Para pengawalnya tidak mampu berbuat apa-apa atas kematian pemimpin mereka, mereka hanya bisa bersedih dan menyesali tindakan mereka yang terlalu gegabah sehingga akhirnya merenggut nyawa satu-satunya pemimpin mereka.
Tidak lama kemudian, kabar kematian Tuan Barotbot terdengar sampai ke telinga Raja Bandar. Dengan penuh rasa syukur, sang raja mengucapkan rasa syukur kepada para dewa karena sudah melindunginya dari para pengkhianat. Para pembesar dan keluarga kerajaan juga sangat bahagia atas keselamatan raja mereka. Raja lalu menyuruh para pengawalnya agar membawa Si Malangu menghadapnya, untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah membongkar rencana busuk dari Tuan Barotbot. "Anggo nang podas ipatugah ko bakku tahitahini Tuan Barotbot ai domma matei au ambia", ucap raja bandar kepada Si Malangu. Atas jasanya, raja lalu mengangkatnya sebagai pejabat kerajaan yang baru bergelar Tuan Si Malangu yang posisinya langsung di bawah raja. Berkat kejadian ini statusnya pun terangkat, karirnya pun menanjak dengan cepat. Kehidupannya perlahan membaik dan penyakitnya disembuhkan oleh tabib kerajaan. Sejak itu, ia tidak lagi jadi cemoohan masyarakat, tetapi jadi sosok yang disegani. Raja kemudian bersama dengan para pembesar kerajaan berembuk membahas tindakan pengkhianatan yang telah dilakukan Tuan Barotbot, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada rakyat Barotbot, sebab gerakan pengkhianatan ini mendapat dukungan dari rakyatnya. Raja Bandar yang masih menyimpan kemarahan, lalu memutuskan untuk menghukum mati mereka semua. Tuan Nagodang menolak keputusan tersebut, karena dinilai tidak berperikemanusiaan. Ia lalu menyarankan agar rakyat Barotbot dikurung dalam sebuah kandang besar bersama dengan kerbau liar. Hukuman itu dianggap lebih tepat, dalam kandang itu mereka akan beradu dengan sekumpulan kerbau, mereka akan berjuang untuk tetap hidup. Bagi yang mampu menyelamatkan diri akan hidup dan bagi yang tak mampu akan mati. Bagi mereka yang hidup dibiarkan bebas, Raja Bandar pun menyetujui hukuman tersebut.
Ia memerintahkan kepada panglima kerajaan agar mengatur rencana pelaksanaan hukuman. Sejumlah pasukan berkuda kemudian bergegas menuju kampung Barotbot, kandang berukuran besar pun dibuat. Dengan disaksikan Raja Bandar, rakyat Barotbot lalu diarak masuk ke dalamnya. Di dalam kandang tersebut mereka saling beradu dengan sekumpulan kerbau liar. Satu persatu rakyat Barotbot mati terbunuh oleh keganasan kerbau-kerbau tersebut, sebagian ada yang berhasil selamat lalu melarikan diri. Setelah itu pemukiman rakyat Barotbot pun dibumihanguskan. Melihat peristiwa itu, Raja Bandar merasa puas, kemarahannya mulai reda. Ia bersama para pembesar lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana. Kampung Taran Manik kini sudah tidak ada lagi dan sudah berubah jadi area perladangan, tidak jauh dari tempat ini terdapat kampung bernama Pamorhatan. Mereka yang selamat dari hukuman berpencar ke berbagai tempat dan terus menyimpan dendam terhadap Raja Bandar karena telah membunuh keluarga dan saudara mereka. Dendam ini terus menerus melekat hingga anak cucu mereka. Hingga meletusnya Revolusi Sosial 3 Maret 1946, di antara keturunan rakyat Barotbot ini ada beberapa orang yang ikut terlibat aksi pembunuhan dan penculikan keluarga Raja Bandar. Menurut mereka pada saat itulah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam leluhur mereka. Salah seorang keturunan mereka bernama Bahrum Damanik pernah menjadi Walikota Tanjung Balai (1975-1980), sementara dari keturunan Si Malangu ada yang pernah menjadi anggota DPRD Sumatera Utara dan juga anggota DPRD Simalungun.
Narasumber:
Tuan Kaliasan Damanik Bariba putera Tuan Satia Bisara Damanik Bariba (Nagodang Bandar).
Oleh: Masrul Purba Dasuha
Pada zaman dahulu berdiamlah suatu kelompok marga Damanik Barotbot di lingkungan Kerajaan Bandar, mereka mendiami suatu tempat bernama Taran Manik. Mereka merupakan penduduk awal sebelum kehadiran marga Damanik Bariba dari Kerajaan Siantar dan sisa-sisa keturunan Nagur. Eksistensi mereka terdesak setelah kehadiran Tuan Bonas Mahata Damanik putera Tuan Na Martuah Damanik, Raja Siantar yang mendirikan Kerajaan Bandar. Selama ini hubungan antara mereka berjalan baik dan harmonis, rakyat Barotbot patuh dan tunduk terhadap kekuasaan Raja Bandar, namun belakangan muncul pemimpin baru di tengah-tengah mereka yang sangat mendambakan kekuasaan yang dikenal dengan julukan Tuan Barotbot. Untuk menarik simpati rakyatnya, ia lalu mengusung propaganda "Damanik Rampogos adalah penduduk asli lebih berhak sebagai penguasa daripada pendatang" dan menghasut mereka agar pro kepadanya dan sama-sama melakukan makar mengkudeta Raja Bandar. Gerakan ini akhirnya kian mendapat dukungan penuh dari rakyatnya, akan tetapi konspirasi ini belum tercium oleh pihak kerajaan. Meski mereka sama-sama dari golongan marga Damanik, namun hal itu tidak menyurutkan langkah Tuan Barotbot untuk merencanakan pengkhianatan, dia bersama rakyatnya tetap tidak rela tanahnya dikuasai pihak lain. Untuk memuluskan langkahnya, ia berniat membunuh Raja Bandar. Bersama rekan-rekannya, rencana makar pun dirancang, yaitu dengan mengadakan perjamuan kepada Raja Bandar. Ia lalu menyuruh anggotanya untuk menyampaikan pesan kepada raja tentang acara perjamuan, tanpa ada kecurigaan dengan senang hati Raja Bandar menyetujui niat baik dari Tuan Barotbot. Pada perjamuan itu, Tuan Barotbot akan membubuhkan racun pada makanan yang akan disantap raja, di benaknya bila raja mati maka kekuasaan akan dengan mudah ia peroleh.
Segala persiapan untuk melangsungkan acara dilakukan dengan sungguh-sungguh berikut tipu daya untuk membunuh Raja Bandar. Tuan Barotbot memanggil seorang tukang daging (parjuhut) dan melakukan kesepakatan rahasia dengannya. Di atas jembatan Bah Pamujian, tidak begitu jauh dari istana raja (rumah bolon), Tuan Barotbot menyuruh Parjuhut agar menaburkan racun ke dalam makanan yang akan disantap raja. Ia berkata: "Tirtiri ma holi sibiangsa on hubagas panganonni rajatta ai..! sapah na ipalit ma holi baen tandani". Racun pembunuh itu bernama Sibiangsa, sejenis racun yang sangat berbahaya dan mematikan yang biasa digunakan untuk meleburkan tanah. Tanpa mereka sadari ternyata percakapan mereka didengar oleh seorang pria bermarga Saragih yang berada di bawah jembatan tersebut. Pria ini mengidap penyakit kulit yang disebut purupuruon, kala itu ia sedang membersihkan tubuhnya di sungai Bah Pamujian. Oleh penduduk setempat, pria ini digelari Si Malangu yang berarti orang yang berbau tidak sedap. Karena penyakit yang diidapnya, ia selalu dihardik dan dicerca oleh penduduk dan dianggap manusia yang tidak berharga. Setelah selesai membersihkan diri, Si Malangu lalu memberanikan diri pergi menuju istana untuk menemui Raja Bandar dan menceritakan niat jahat dari Tuan Barotbot.
Sesampainya di halaman istana, Si Malangu langsung dihalau oleh para pengawal istana, kehadirannya menimbulkan kemarahan mereka, namun mereka tidak sampai memukulnya. Si Malangu tetap tidak menyerah, ia terus saja memohon agar diperkenankan bertemu dengan raja. Para pengawal lalu bertanya padanya: “Lahou mangaha do ho hujon o Malangu? Hambus ko hunjon, ulang dohor-dohor ho hu rumah bolon on!". Si Malangu menjawab: "Lahou manjuppahi rajatta do au lo ambia". Para pengawal tersebut tetap saja melarang dan menghalaunya dan berkata: "Babahmin ma, lahou manjuppahi raja nim, ise gakni ho ase pag ho manjuppahi raja? Ulang be buei hatamu ijin, hambus ma ho hunjon Malangu!... Sedo ijon iananmu, ulang soppat hutoppaskon holi babahmin". Si Malangu tetap bersikeras dan tidak mau mengindahkan larangan mereka. Mendengar keributan di luar, sang raja lantas memanggil salah seorang pengawal untuk memberitahukan keadaan yang terjadi, pengawal lalu berkata: "Amba Janami, dong si Malangu i balui. Nini gan lahou pajuppah pakon Janami, dong gan na porlu lahou sahapkononni". Raja pun menjawab: "Anggo sonai suruh ma ia hubagas", pengawal tersebut akhirnya memperkenankan Si Malangu untuk masuk. dengan menundukkan tubuhnya perlahan Si Malangu menaiki tangga istana menuju ke hadapan sang raja sembari bersimpuh. "Aha do nai na mambaen ho ase roh kujon ale Malangu?" tanya raja. "Amba ale janami 3x... lang janami... lang", sahut Si Malangu. Raja kembali bertanya: “Patugah ma ale Malangu! Ulang pala mabiar ho. Aha do nai na lahou patugahonmu bakku?". Dengan diliputi rasa takut, ia terdiam sejenak dan termangu-mangu sambil bersimpuh sembari berkata: "Amba ale janami 3x..., sonon ge ale Janami, sanggah itoruhni hitei ai au paliaskon akkulakku, hutangar Tuan Barotbot lahou pamanganhon Janami pakon Sibiangsa". Mendengar ucapan Si Malangu, sang raja sangat terkejut namun ia tidak panik karena ia menganggap itu hanya omong kosong Si Malangu saja. Sang raja lalu berkata: "Ai ra dong na pag mambaen sonai bakku lo ambia...? Seng tongon ai ambia". Si malangu kembali meyakinkan sang raja dan berkata: "Amba ale Janami 3 x, tongon do ai ale Janami, tongon do ai.... ale Janami”. Ia menjelaskan: "Sapah na ipalit ma holi tandani panganon na inahi sibiangsa ai, ale Janami". Raja pun mulai yakin meski sangat terkejut, akan tetapi ia berusaha untuk tidak panik. "Tupa ma bai tugahtugahmai o Malangu, anggo sonai mulak ma ho!", ujar raja kepada si Malangu.
Si Malangu dengan menunduk mengundurkan diri dari hadapan Raja Bandar. Karena kuatir akan keselamatannya, ia lalu pergi menjauh ke dalam hutan. Sang raja lalu bertitah agar penjagaan di istana lebih diperketat, para hulubalang pun turun memeriksa kesiapan dari para pengawal dan prajurit bagian pengamanan. Bersama dengan para pembesar kerajaan (Harajaan), yaitu Tuan Nagodang, Tuan Rumah Suah, dan Tuan Kahaha serta para Parbapaan Bandar yaitu Tuan Bandar Sahkuda, Tuan Mariah Bandar, Tuan Naga Bandar, dan Tuan Bandar Tongah. Sang raja lalu menceritakan kisah yang didengarnya dari Si Malangu mengenai rencana jahat dari Tuan Barotbot. Mereka sangat terkejut dan sama sekali tak menyangka Tuan Barotbot berani melakukan itu. Mereka lalu menganjurkan agar sang raja tetap saja mengikuti jamuan makan yang ditawarkannya untuk membuktikan kebenaran cerita dari Si Malangu. Raja pun menyetujuinya dan meminta mereka agar berwaspada akan berbagai kemungkinan ancaman yang akan terjadi. Waktu perjamuan makan pun sudah dekat,
Tuan Barotbot bersama para pengawalnya dari kampung barotbot bergegas menuju ke istana Raja Bandar yang berjarak sekitar 15 km dari kediaman mereka. Sembari menanti kehadiran Tuan Barotbot, di istana sudah berkumpul para pembesar kerajaan, mulai dari Harajaan, Raja Goraha, Parbapaan, Partuanon, Pangulu, Guru Huta, Puanglima, Parsaholat, Gamot, dan keluarga kerajaan seperti puang bolon, panak boru, dan para dayang-dayang. Kerumunan rakyat bandar memadati halaman istana raja bandar untuk menyaksikan acara tersebut. Tidak lama kemudian, Tuan Barotbot pun tiba bersama pasukannya, pihak kerajaan lalu menyambut kedatangan mereka seperti biasa. Acara perjamuan pun siap untuk dilaksanakan, penjagaan dan kewaspadaan para pengawal istana juga sudah disiagakan. Berbagai jenis makanan dan minuman sudah tersaji, tukang daging yang bertugas menyiapkan makanan yang mengandung racun sibiangsa itu juga sudah menempatkannya di meja raja.
Kini waktunya untuk menikmati hidangan, Raja Bandar bersama Tuan Barotbot duduk satu meja, Tuan Barotbot lalu mempersilakan raja agar mulai mencicipi makanan sembari memutar meja agar piring yang mengandung makanan beracun tersebut berhenti di depan Raja Bandar. tidak mau kalah dengan Tuan Barotbot, raja yang sudah mengetahui niat jahatnya berusaha menghindari piring makanan yang mengandung racun tersebut. Ia bisa mengenalinya dengan tanda yang ditaruh di bawah piring. Demikian juga Tuan Barotbot, ia berusaha mengelak saat makanan itu berhenti di depannya. Demikianlah berulang-ulang makanan yang mengandung racun Sibiangsa itu selalu saja berhenti di depan Tuan Barotbot. Demi menjaga rasa malu dan takut kedoknya terungkap, makanan beracun terpaksa harus disantapnya. Racun tersebut seketika langsung bereaksi dalam tubuh Tuan Barotbot. Ia lalu mohon diri kepada sang raja hendak kembali ke kampung Barotbot. Dengan perasaan penuh rasa malu dan kecewa berat karena rencana busuknya gagal, Tuan Barotbot bersama pasukannya kembali tanpa hasil. Racun yang mestinya dimakan raja, justru malah dimakannya sendiri. Senjata pembunuh yang dibuatnya justru membunuh dirinya sendiri. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Keadaan itulah yang menimpa tuan barotbot. Di tengah perjalanan, tubuhnya pun mulai sempoyongan, di tengah jalan racun itu dimuntahkannya, tanah tempat muntahan tersebut meledak dan membentuk lubang besar. Dalam kondisi demikian, ia tetap berusaha melanjutkan perjalanan, hingga mendekati kediamannya ia kembali memuntahkan racun itu dan kembali membentuk lubang besar. Tidak lama kemudian, ia pun terjerembab jatuh dari kudanya ke dalam lubang tempat muntahan tadi dan meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Para pengawalnya tidak mampu berbuat apa-apa atas kematian pemimpin mereka, mereka hanya bisa bersedih dan menyesali tindakan mereka yang terlalu gegabah sehingga akhirnya merenggut nyawa satu-satunya pemimpin mereka.
Tidak lama kemudian, kabar kematian Tuan Barotbot terdengar sampai ke telinga Raja Bandar. Dengan penuh rasa syukur, sang raja mengucapkan rasa syukur kepada para dewa karena sudah melindunginya dari para pengkhianat. Para pembesar dan keluarga kerajaan juga sangat bahagia atas keselamatan raja mereka. Raja lalu menyuruh para pengawalnya agar membawa Si Malangu menghadapnya, untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah membongkar rencana busuk dari Tuan Barotbot. "Anggo nang podas ipatugah ko bakku tahitahini Tuan Barotbot ai domma matei au ambia", ucap raja bandar kepada Si Malangu. Atas jasanya, raja lalu mengangkatnya sebagai pejabat kerajaan yang baru bergelar Tuan Si Malangu yang posisinya langsung di bawah raja. Berkat kejadian ini statusnya pun terangkat, karirnya pun menanjak dengan cepat. Kehidupannya perlahan membaik dan penyakitnya disembuhkan oleh tabib kerajaan. Sejak itu, ia tidak lagi jadi cemoohan masyarakat, tetapi jadi sosok yang disegani. Raja kemudian bersama dengan para pembesar kerajaan berembuk membahas tindakan pengkhianatan yang telah dilakukan Tuan Barotbot, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada rakyat Barotbot, sebab gerakan pengkhianatan ini mendapat dukungan dari rakyatnya. Raja Bandar yang masih menyimpan kemarahan, lalu memutuskan untuk menghukum mati mereka semua. Tuan Nagodang menolak keputusan tersebut, karena dinilai tidak berperikemanusiaan. Ia lalu menyarankan agar rakyat Barotbot dikurung dalam sebuah kandang besar bersama dengan kerbau liar. Hukuman itu dianggap lebih tepat, dalam kandang itu mereka akan beradu dengan sekumpulan kerbau, mereka akan berjuang untuk tetap hidup. Bagi yang mampu menyelamatkan diri akan hidup dan bagi yang tak mampu akan mati. Bagi mereka yang hidup dibiarkan bebas, Raja Bandar pun menyetujui hukuman tersebut.
Ia memerintahkan kepada panglima kerajaan agar mengatur rencana pelaksanaan hukuman. Sejumlah pasukan berkuda kemudian bergegas menuju kampung Barotbot, kandang berukuran besar pun dibuat. Dengan disaksikan Raja Bandar, rakyat Barotbot lalu diarak masuk ke dalamnya. Di dalam kandang tersebut mereka saling beradu dengan sekumpulan kerbau liar. Satu persatu rakyat Barotbot mati terbunuh oleh keganasan kerbau-kerbau tersebut, sebagian ada yang berhasil selamat lalu melarikan diri. Setelah itu pemukiman rakyat Barotbot pun dibumihanguskan. Melihat peristiwa itu, Raja Bandar merasa puas, kemarahannya mulai reda. Ia bersama para pembesar lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana. Kampung Taran Manik kini sudah tidak ada lagi dan sudah berubah jadi area perladangan, tidak jauh dari tempat ini terdapat kampung bernama Pamorhatan. Mereka yang selamat dari hukuman berpencar ke berbagai tempat dan terus menyimpan dendam terhadap Raja Bandar karena telah membunuh keluarga dan saudara mereka. Dendam ini terus menerus melekat hingga anak cucu mereka. Hingga meletusnya Revolusi Sosial 3 Maret 1946, di antara keturunan rakyat Barotbot ini ada beberapa orang yang ikut terlibat aksi pembunuhan dan penculikan keluarga Raja Bandar. Menurut mereka pada saat itulah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam leluhur mereka. Salah seorang keturunan mereka bernama Bahrum Damanik pernah menjadi Walikota Tanjung Balai (1975-1980), sementara dari keturunan Si Malangu ada yang pernah menjadi anggota DPRD Sumatera Utara dan juga anggota DPRD Simalungun.
Narasumber:
Tuan Kaliasan Damanik Bariba putera Tuan Satia Bisara Damanik Bariba (Nagodang Bandar).
Thursday, March 10, 2016
Bahasa Simalungun Dalam Tinjauan Linguistik

Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd
(Telah Diterbitkan di Majalah Sauhur Edisi II Tahun 2007)
Pendahuluan
Bicara
mengenai Bahasa Simalungun, maka terlebih dahulu kita mengulas
bagaimana sejarah masuknya nenek moyang penutur bahasa Austronesia
ribuan tahuan lalu ke nusantara khususnya ke Sumatera Utara. Bahasa
Austronesia adalah rumpun bahasa yang terbilang sudah cukup tua dan
sangat luas penyebarannya di dunia, kemunculannya diperkirakan sekitar
6.000-10.000 tahun lalu. Kebanyakan bahasa-bahasa Austronesia tidak
mempunyai sejarah panjang dalam bentuk tertulis, sehingga upaya untuk
merekonstruksi bentuk-bentuk yang lebih awal, yaitu sampai pada
Proto-Austronesia sangat sulit. Prasasti tertua dalam bahasa
Cham, yaitu Prasasti Dong Yen Chau yang diperkirakan dibuat pada abad
ke-4 Masehi, sekaligus merupakan bukti tertulis tertua pula bagi
rumpun bahasa Austronesia. Robert Blust, seorang pakar ilmu linguistik
telah mencoba merekonstruksi silsilah dan pengelompokan bahasa-bahasa
dari rumpun Austronesia misalnya kosakata proto Bahasa Austronesia yang
berkaitan dengan flora dan fauna serta gejala alam. Seorang pakar
linguistik lainnya bernama Spir juga telah menyusun kronologi penyebaran
Bahasa Austronesia dari tahun ke tahun. Ada beragam pendapat mengenai
tanah air Bangsa Austronesia ini, para cendekiawan mencoba menyelidiki dari dua sisi yaitu melalui bukti arkeologi dan ilmu genetika. Secara penelaahan genetika memberikan hasil
yang bertentangan, sejumlah peneliti menemukan bukti bahwa tanah air
Bangsa Austronesia Purba berada di benua Asia (Melton dkk, 1998).
Sedangkan para peneliti lainnya merujuk pada kajian linguistik menyatakan bangsa
Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan, dengan alasan di Taiwan
ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun
bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari
sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28)
menemukan hal ini ketika ia menulis:
“...
Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya
dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu
sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam
rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya.
Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja
bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa
Austronesia secara kesuluruhan".

Gambar 1: Peta penyebaran bahasa Austronesia di Taiwan sebelum kehadiran orang-orang Tionghoa.
Setidaknya
sejak Spir (1968), para ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari
penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan
keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang
kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari
cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari
perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit
perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman
dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun
bahasa Austronesia. Sedangkan hasil penggalian arkeologi menunjukkkan
bahwa bangsa Austronesia sudah bermukim di Taiwan sekitar 8.000 tahun
yang lalu. Dari pulau ini mereka bermigrasi ke Filipina, Indonesia
kemudian Madagaskar dan ke seluruh Samudera Pasifik. Para ahli sejarah
menyarankan migrasi ini bermula sekitar 6.000 tahun yang lalu. Hasil
penelitian mutakhir para ahli semakin memantapkan dugaan adanya dua arus
migrasi besar ke nusantara yang menjadi cikal bakal leluhur langsung
bangsa Indonesia. Pertama, bangsa Austroasia yang tiba pada 4.300-4.100
tahun lalu dan kedua, bangsa Austronesia yang datang pada kisaran 4.000
tahun lalu. Arkeolog prasejarah dari Pusat Arkeologi Nasional, Harry
Truman Simanjuntak, mengatakan, Austroasia dan Austronesia awalnya
berasal dari satu rumpun bahasa yang sama, yaitu bahasa Austrik. Bahasa
ini berasal dari Yunan, Tiongkok selatan. Bahasa Austrik akhirnya
terpecah menjadi dua, yaitu Austroasia digunakan di sekitar Asia
Tenggara Daratan dan Austronesia yang digunakan di wilayah kepulauan
mulai dari Taiwan, Filipina, Samudera Pasifik, Madagaskar hingga Pulau
Paskah.


Gambar 2-4: Rute penyebaran bangsa dan bahasa Austronesia beserta tahunnya.
Dari
hasil pengkajian bahasa yang dilakukan oleh penulis, dalam bahasa
Simalungun sendiri ditemukan terdapat dua golongan bahasa baik
Austroasia maupun Austronesia. Adapun leluhur langsung yang menurunkan
bangsa dan bahasa Simalungun yang datang dari Taiwan, penulis menduga
yaitu dari suku Amis dan Atayal yang bermigrasi ke Sumatera Utara
sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka masuk melalui pantai timur Sumatera,
awalnya mereka menetap di pesisir mendesak bangsa Austroasia yang lebih
dulu datang pada 300-100 tahun sebelumnya, sebelum kehadiran Bangsa
Austronesia, suku Simalungun pada awalnya menuturkan Bahasa Austroasia.
Namun penulis belum mampu menyebutkan secara spesifik suku apakah dari
golongan Bangsa Austroasia yang datang ke Simalungun, selain datang dari
Taiwan, ada juga penutur Bahasa Austroasia yang datang langsung dari
daratan asia yaitu dari Thailand, Vietnam, dan Myanmar, hal ini
diketahui dari adanya kemiripan kosa kata antara rumpun bahasa Mon-Khmer
seperti bahasa Mon, Khmer, Thai, Palaung, Shan, dan Khasi dengan bahasa
Simalungun, keempat bahasa ini dituturkan di negara Myanmar, Kamboja,
Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, India, dan Cina. Dari sejumlah daerah
inilah para penutur Bahasa Austroasia berlayar ke nusantara khususnya
Sumatera Utara. Namun pasca masuknya Bangsa Austronesia dari Taiwan
perlahan kedudukan Bahasa Austroasia tergantikan akibat dominasi dari
Bahasa Austronesia.

Gambar 5: Skema pembagian rumpun bahasa Austroasia.
Bahasa Simalungun
Secara
linguistik bahasa Simalungun digolongkan ke dalam salah satu sub bahasa
Batak, Petrus Voorhoeve (1955: 88) memposisikan bahasa Simalungun
berada pada rumpun tengah di antara rumpun selatan (Toba, Mandailing,
Angkola) dan utara (Pakpak, Karo, Alas). Namun menurut Adelaar (1981:
55), bahasa Simalungun sebenarnya adalah salah satu cabang dari rumpun
selatan, yang berpisah dengan bahasa Toba, Mandailing, dan Angkola
sebelum ketiga bahasa tersebut terbentuk. Dari ungkapan Adelaar ini
menyiratkan bahwa bahasa Simalungun telah berwujud sebelum lahirnya
ketiga bahasa rumpun selatan lainnya yang kemudian berpisah dan
membentuk rumpun tersendiri. Geoff Wollams dalam penelitiannya tentang
bahasa Karo menemukan bahwa dari 207 kosa kata dasar yang ia bandingkan
antara bahasa Karo dan bahasa Simalungun ternyata dalam kedua bahasa tersebut terdapat kesamaan sebesar 80%.

Gambar 6: Skema pembagian bahasa Batak menurut Adelaar (1981: 55)
Bahasa
Simalungun menjadi media tutur bagi masyarakat pribumi yang mendiami
tanah Simalungun meliputi Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar,
Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi, namun pada zaman
dahulu wilayah penyebaran Bahasa Simalungun meluas sampai ke Langkat,
Medan, Asahan, Batubara, dan Labuhan Batu. Hal ini diketahui dari
banyaknya nama tempat yang menggunakan bahasa Simalungun di sepanjang
pesisir timur mulai dari Langkat hingga Labuhan Batu. Luasnya penyebaran
Bahasa Simalungun tidak terlepas dari perjalanan sejarah suku
Simalungun itu sendiri, di mana mereka telah melalui berbagai fase dalam
menapaki lintasan sejarah. Kebesaran suku Simalungun diawali pada masa
Kerajaan Nagur yang pada masa kejayaannya menguasai sebagian besar
daerah di pesisir Sumatera Timur mulai dari Aceh hingga sungai Rokan.
Namun seiring berjalannya waktu terjadi pasang surut kekuasaan, Kerajaan
Nagur mengalami berbagai rongrongan baik dari dalam maupun dari luar
sehingga perlahan Nagur mengalami kemunduran dan daerah-daerah koloninya
banyak dicaplok oleh sejumlah dinasti baru seperti Haru, Perlak, Pasai,
Aceh, Johor, dan Siak.
Bila
ditinjau dari bentuknya, Bahasa Simalungun telah mengalami beberapa
fase dalam pembentukannya, mulai dari Bahasa Simalungun kuno (Proto
Simalungun), Simalungun pertengahan (Middle Simalungun), dan Simalungun
baru (Neo Simalungun). Bahasa Simalungun masih banyak mewarisi
bentuk-bentuk asli dari Bahasa Austronesia kuno, diantaranya adanya
vokal rangkap (diftong) "ui', ou, dan ei" dan memiliki anak surat
(diakritik) tersendiri dalam bentuk verbal, masing-masing bernama
hatulungan /ou/, hatalingan /ei/, dan hatuluyan /ui/, hal ini akan
penulis jelaskan satu persatu secara rinci. Eksistensi vokal rangkap ini
semakin memperkaya ragam vokal bahasa Simalungun menjadi 8 bentuk yaitu
/a, i, u, e, o, ui, ou, ei/. Pada saat ini terdapat banyak keragaman
dialek dalam Bahasa Simalungun dan pada beberapa lokasi ada
kecenderungan upaya pengaburan bentuk-bentuk asli warisan Bahasa
Austronesia kuno tersebut terutama di kawasan Simalungun Atas dan
Simalungun Horisan. Di samping bahasa Simalungun, fonem /ou/ dan /ei/
ini juga banyak dijumpai pada bahasa-bahasa rumpun Melayu, Karo, dan
Alas di Aceh Tenggara serta bahasa Keluet di Aceh Selatan dan fonem /ui/
selain dalam Bahasa Simalungun dikenal juga dalam Bahasa Alas.
Dalam bahasa Simalungun, fonem /ou/ dapat dilihat pada kata “horbou, pisou, magou, kahou, sopou, lahou, lopou, babou, dilou”. Kemudian fonem /ei/ pada kata “lobei, hitei, bogei, dogei, atei, buei”. Sementara fonem /ui/ terdapat pada kata “tondui, langui, apui, sungui, babui, tului, ampodui, surui, haluhui”. Dalam bahasa Alas di Aceh Tenggara, bentuk kata berdiftong tersebut dapat dilihat dari kata-kata berikut “endou, enggou, idou, benei, melohei, awei, kelukui, tendui, apui”. Demikian juga pada bahasa Keluet yang hanya mengenal fonem /ou/ dan /ei/ saja, seperti pada kata “kou, kerbou, tangkou, benei, kunei, awei, atei, mbuei”. Sedangkan dalam bahasa Karo diwakili oleh kosa kata berikut “dilau, belau, sapau, rimau, ayau, namau, payau, matai, berai, isai, keina, benai, lumai”.
Namun pola penggunaan diftong ini hanya berlaku di wilayah Karo yang
berbatasan dengan Simalungun dan Melayu, tidak meluas hingga ke wilayah
Karo lainnya seperti pada dialek Gunung dan juga Kabanjahe. Hal ini
terjadi akibat adanya kontak secara berkesinambungan dan berlangsung
lama dengan suku Simalungun di perbatasan dan Melayu di Deli Serdang dan
Langkat.
Bila
dilihat padanannya dengan bahasa bahasa Batak yang lain seperti bahasa
Toba, Mandailing, Angkola, dan Pakpak; fonem /ou/ ini biasa berbunyi /o/
seperti pada kosa kata berikut “horbo, piso, mago, sopo, laho, babo, tangko, dilo”; /ei/ berbunyi /e/ tampak pada kosa kata “hite, bege, dege, ateate”; sedangkan diftong /ui/ akan berbunyi /i/ seperti kata “tondi, langi, api, babi, suri, halihi”. Selain itu bahasa Simalungun juga mengenal fonem akhir /h/ seperti pada kata “daroh, babah, roh, dilah, soh, gogoh”;
fonem ini tidaklah khusus dalam bahasa Simalungun, karena fonem akhir
ini juga terdapat pada bahasa Pakpak, Karo, Alas, dan juga Keluet; namun
tidak untuk bahasa Toba, Mandailing, dan Angkola -- ketiganya sama
sekali tidak mengenal sedikitpun akan penggunaan fonem ini, bagi mereka
kata “babah” akan berbunyi "baba", “roh” akan berbunyi “ro”, “dilah” akan berbunyi “dila”, dan “gogoh” akan berbunyi “gogo”.
Keragaman
fonem lainnya yang tidak ditemukan dalam Bahasa Batak lainnya adalah
/d/, /g/, dan /b/, ketiga fonem ini menjadi penutup dalam sebuah kata.
Ahli bahasa Belanda Dr. Petrus Voorhoeve (1955: 88) pernah mengulas
tentang fonem penutup /d/, /g/, dan /b/ ini, ia merasa terkesima karena
bahasa Simalungun satu-satunya etnis Batak yang mengenal bentuk fonem
seperti ini. Menurut Voorhoeve, fonem ini erat hubungannya dengan bahasa
Sanskerta. Pola penggunaannya tidak mengalami perubahan baik dalam
bentuk lisan (oral) maupun tulisan (verbal). Fonem /d/ tampak pada kata “bod, saud, towod, agad, sogod, bagod, sarad, alud”. Sedang fonem akhir /g/ diwakili oleh kata “dolog, pusog, balog, gijig, ubag, lanog, gilog, borgog, bolag, bogbog, pag, ulog”. Sementara fonem akhir /b/ muncul pada kata “dob, rongkob, dorab, tayub, langkob, sab”.
Kosa kata yang sama ditemukan juga pada bahasa Pakpak dan Karo, namun
fonem penutup /d/ mengalami perubahan menjadi /n/, dan /g/ menjadi /ng/,
di mana kata “bod” berubah menjadi “bon/ben”, “saud” menjadi “sahun”, “towod” menjadi “tiwen”, “sogod” menjadi “cegen”, “sarad” menjadi “saran”, dan “alud” menjadi “alun”. Kemudian kata “dolog” menjadi “deleng”, “pusog” menjadi “puseng”, “balog” menjadi “baleng”, “lanog” menjadi “laneng”, “borgog” menjadi “bergeng”, “bolag” menjadi “belang”, dan “pag” menjadi “pang”. Sementara untuk fonem /b/ penulis belum dapat menentukan bentuk perubahannya.
Pada
bahasa etnis Batak lainnya seperti Toba, Mandailing, dan Angkola fonem
/d/ akan berbunyi /t/ seperti tampak pada kosa kata berikut bod–bot, saud–saut, tuod–tot, agad–agat, sogod–sogot, bagod–bagot, sarad–sarat, alud–arut; /g/ akan berbunyi /k/ seperti dolog–dolok, balog–balok, lanog–lanok, bolag–bolak, ulog–ulok;
sedang untuk fonem /b/ penulis juga belum dapat menentukan bentuk
perubahannya. Gorys Keraf dalam bukunya Linguistik Bandingan Historis
mengemukakan, bahwa fonem /d/, /g/, dan /b/ merupakan fonem yang
dianggap bermasalah pada sejumlah bahasa, tidak hanya pada bahasa
nusantara, namun berlaku pula pada bahasa di belahan bumi Eropa. Karena
fonem /d/, /g/, dan /b/ ini secara deskriptif biasanya mengalami proses
netralisasi ketika berada di posisi akhir, dan berganti dengan fonem
/t/, /k/, dan /p/. Padahal sebenarnya fonem tersebut dapat muncul pada
posisi awal, tengah, dan akhir. Hal itulah yang menjadi masalah, karena
saat ini banyak bahasa yang tidak lagi menampilkan gejala tersebut. Hal
ini mengundang pertanyaan mengapa bahasa Simalungun masih menampilkan
gejala tersebut?
Dalam
bahasa Simalungun ternyata terdapat cukup banyak kosa kata yang bukan
produk hasil kreasi nenek moyang suku Simalungun. Kosa kata itu umumnya
diadopsi dari bahasa Sanskerta, Arab, Persia, dan Tamil. Hal ini tentu
tidak pernah disadari oleh para penutur bahasa Simalungun, mereka
umumnya merasa semua kosa kata yang mereka tuturkan adalah warisan
langsung dari nenek moyang mereka. Adapun kata serapan dari bahasa
Sanskerta, di antaranya digunakan untuk penyebutan nama-nama dewa
seperti “bisnu, sori, hala, borma” yang tidak lain adalah perubahan bentuk dari kata “whisnu, sri, kala, brahma”. Demikian juga untuk menyebut gugusan bintang dengan “mesa, morsoba, mituna, harahata, singa, hania, tula, mortiha, dahanu, mahara, humba, mena” yang bentuk aslinya dalam bahasa Sanskertanya adalah “mesa, vrisabha, mithuna, karkata, singha, kanye, tule, vrstika, dhanu, makara, kumbha, mina”. Kemudian untuk menyebut nama-nama hari seperti “ditia, suma, anggara, mudaha, boraspati, sihora, samisara” dalam bahasa sanskerta berbunyi “aditya, soma, anggara, budha, brihaspati, syukra, syanaiscara”. Selanjutnya untuk menyebut nama-nama mata angin (deisa na waluh) seperti “purba, pastima, otara, daksina, agoni, nariti, manabia, irisanna” yang merupakan perubahan bentuk dari kata “purva, pastjima, uthara, daksina, agni, nairti, wajawia, dan aisana”.
Tidak
hanya itu, untuk kosa kata yang bersifat umum bahasa Sanskerta juga
banyak yang diserap dan mengalami perubahan seperti kata "boniaga" yang berasal dari kata "vanijya", "naibata" dari kata "devata", "purba" dari kata "purva", "porsaya" dari kata "pratyaya", "dousa" dari kata "dosha", "bangsa" dari kata "wamsa", "susian" dari kata "sisya", "horja" dari kata "karya", "arga" dari kata "argha", "halani" dari kata "karana", "rupa" dari kata "rupa", "ugama" dari kata "agama", "nagori" dari kata "nagari", "basa" dari kata "waca", "balei" dari kata "walaya", "banua" dari kata "wanua", "barita" dari kata "wrtta", "nanggurdaha" dari kata "garuda", "gajah" dari kata "gaja", "husapi" dari kata "kacchapi", "huta" dari kata "kuta", dan masih banyak lagi yang lain. Selanjutnya serapan dari bahasa Arab seperti kata "pingkir" yang diserap dari kata "fikr", "adat" dari kata "adat", "dunia" dari kata "dunya", "uhum" dari kata "hukm", "sibolis" dari kata "iblis". Kemudian serapan dari bahasa Persia seperti kata "saluar" yang berasal dari kata "shalwar", "sarunei" yang berasal dari kata "surnai", "pinggan" yang berasal dari kata "pinggan". Dan yang terakhir serapan dari bahasa Tamil seperti kata "bodil" yang diserap dari kata "badil", "sohei" dari kata Tamil "cukkai", "mandihei" dari kata Tamil "komattikai".
Penulis belum dapat menentukan secara definitif bagaimana proses
penyerapan kosa kata ini terjadi, apakah memang langsung diserap dari
bahasa Sanskerta, Arab, Persia, dan Tamil atau melalui bahasa lain yang
memang pernah mengadakan kontak langsung dengan keempat bahasa asing
tersebut.
Dialek Bahasa Simalungun
Dalam
perkembangannya bahasa Simalungun banyak mengalami dinamisasi akibat
terjadinya perpindahan dan pengaruh dari penutur bahasa lain. Fenomena
ini akhirnya membentuk pengelompokan dalam penerapan Bahasa Simalungun
yang ditandai dengan kemunculan sejumlah dialek dalam bahasa Simalungun
seperti dialek Sin Raya, Sin Dolog, Sin Purba, Sin Panei, dan Sin
Bandar. Namun, Henry Guntur Tarigan membedakan dialek bahasa Simalungun
hanya ke dalam 4 macam dialek, yaitu Silimakuta, Raya, Topi Pasir
(Horisan), dan Jaheijahei (pesisir pantai timur). Dari sekian dialek
tersebut, para peneliti bahasa cenderung memilih dialek Sin Raya yang
dijadikan sebagai tolok ukur (standarisasi) dalam mengkaji Bahasa
Simalungun, dialek ini dituturkan oleh masyarakat Simalungun yang
berdomisili di Kecamatan Raya. Seluruh dialek tersebut di atas pada
awalnya adalah sama, namun karena terjadinya perpindahan dari kediaman
bahasa induknya sehingga perlahan mengalami pergeseran, ditambah
derasnya pengaruh dari penutur bahasa lain di sekitar wilayah Simalungun
juga cukup berperan dalam memudarkan keorisinilan bahasa Simalungun.
Fakta ini dialami langsung oleh orang Simalungun yang bermukim di
sepanjang daerah pesisir danau Toba (Horisan), seperti di Kecamatan
Girsang Sipangan Bolon, Sidamanik, Pamatang Sidamanik, Dolog Pardameian,
Haranggaol Horisan, dan Purba; akibat kerapnya mengadakan interaksi
dengan penutur bahasa Toba yang datang dari pulau Samosir dan
sekitarnya, maka bahasa Simalungun di daerah ini banyak bercampur dengan
bahasa Toba.
Di
Kecamatan Panei dan Panombeian Panei juga demikian, dialek bahasa
Simalungun yang digunakan juga sudah terkontaminasi dengan bahasa Toba.
Berbeda halnya dengan masyarakat Simalungun yang berdiam di Kecamatan
Dolog Silou, Silimakuta, Gunung Mariah, Bangun Purba, Silindak, dan Kota
Rih; akibat kerapnya bersentuhan dengan penutur Bahasa Karo, maka
dinamika penyerapan bahasa antara keduanya pun tidak dapat dielakkan.
Lain lagi dengan masyarakat Simalungun yang berdomisili di daerah
Jahei-jahei seperti di Kecamatan Bandar, Pamatang Bandar, Bandar
Masilam, Bandar Huluan, Gunung Malela, Gunung Maligas, dan Dolog Batu
Nanggar, daerah ini dihuni oleh masyarakat Simalungun yang mayoritas
beragama Islam dan sejak ratusan tahun sudah mengadakan kontak dengan
suku Melayu di Batubara dan Asahan, baik dalam kegiatan sosial,
keagamaan, dan juga perdagangan, secara tak sengaja anasir bahasa Melayu
menyerap ke dalam bahasa Simalungun. Kondisi berbeda dialami masyarakat
Simalungun yang menetap di antara komunitas suku Jawa seperti di
Kecamatan Bandar Huluan, Gunung Malela, Gunung Maligas, Tapian Dolog,
dan Dolog Batu Nanggar. Sejak masuknya imigran Jawa ke tanah Simalungun
yang dibawa oleh Belanda untuk dipekerjakan di perkebunan, persentuhan
budaya dan bahasa antara komunitas Jawa dan Simalungun sudah terjadi
secara berkesinambungan. Berakhirnya sistem feodalisme di Simalungun
semakin memberikan peluang seluasnya-luasnya bagi mereka untuk menduduki
berbagai tempat di tanah Simalungun. Peran mereka dalam memudarkan
identitas dan penggunaan Bahasa Simalungun sangat besar dan sulit untuk
dibendung. Nama-nama tempat di Simalungun juga banyak yang berubah
bentuknya akibat mengikuti pola bahasa mereka.
Penutup
Dari uraian ini diperoleh sebuah deskripsi bahwa Bahasa Simalungun memiliki sejumlah keistimewaan baik dalam bentuk maupun posisinya, kendati demikian bahasa Simalungun bukanlah bahasa yang berdiri sendiri tanpa adanya ikatan dengan Bahasa Batak yang lain. Bahasa Simalungun takkan dapat menarik diri bila dikatakan memiliki kesamaan dengan bahasa Toba, Mandailing, dan Angkola sebagai Rumpun Selatan. Dan tidak dapat disangkal pula bila bahasa Simalungun banyak memiliki kemiripan dengan bahasa Pakpak, Karo, Alas, dan Keluet yang berada pada Rumpun Utara. Kondisi ini terjadi dikarenakan posisi Bahasa Simalungun berada pada rumpun tengah, sehingga bahasa Simalungun menjadi perwakilan atau mediasi bagi seluruh Bahasa Batak.
Dari uraian ini diperoleh sebuah deskripsi bahwa Bahasa Simalungun memiliki sejumlah keistimewaan baik dalam bentuk maupun posisinya, kendati demikian bahasa Simalungun bukanlah bahasa yang berdiri sendiri tanpa adanya ikatan dengan Bahasa Batak yang lain. Bahasa Simalungun takkan dapat menarik diri bila dikatakan memiliki kesamaan dengan bahasa Toba, Mandailing, dan Angkola sebagai Rumpun Selatan. Dan tidak dapat disangkal pula bila bahasa Simalungun banyak memiliki kemiripan dengan bahasa Pakpak, Karo, Alas, dan Keluet yang berada pada Rumpun Utara. Kondisi ini terjadi dikarenakan posisi Bahasa Simalungun berada pada rumpun tengah, sehingga bahasa Simalungun menjadi perwakilan atau mediasi bagi seluruh Bahasa Batak.
Daftar Pustaka:
Kozok, Uli. Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak. Jakarta: Gramedia. 1999
Parkin, Harry. Batak Fruit of Hindu Thought. Madras, India: The Christian Literature Society. 1978
Voorhoeve, Petrus. Critical Survey of Studies on the Languages of Sumatra. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. 1955
Adelaar, K.A. Reconstruction of Proto-Batak Phonology. NUSA 10:1-20. 1981
Keraf, Gorys. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia. 1984
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1996
Kozok, Uli. Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak. Jakarta: Gramedia. 1999
Parkin, Harry. Batak Fruit of Hindu Thought. Madras, India: The Christian Literature Society. 1978
Voorhoeve, Petrus. Critical Survey of Studies on the Languages of Sumatra. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. 1955
Adelaar, K.A. Reconstruction of Proto-Batak Phonology. NUSA 10:1-20. 1981
Keraf, Gorys. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia. 1984
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1996
Thursday, January 28, 2016
Kerbau dan Babi dalam Perspektif Budaya Batak

Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd
Pendahuluan
Babi
adalah binatang yang paling diminati oleh suku Batak saat ini bahkan
dianggap sebagai binatang pujaan, bila ditinjau dari aspek historisnya
tradisi mengkonsumsi babi ternyata baru mulai membudaya pasca masuknya
kolonial Belanda. Babi awalnya adalah makanan favorit pihak kolonial
Belanda, kegemaran mereka dalam mengkonsumi babi kemudian mereka bawa ke
tanah Batak. Pada zaman dahulu dalam budaya Batak, babi tidak pernah
menjadi binatang piaraan, karena binatang ini hidup secara liar di
hutan. Binatang yang sering dipelihara oleh masyarakat Batak pada zaman
dahulu adalah kerbau, lembu, kuda, kambing, dan ayam. Pada saat menjajah
Tapanuli Utara, Belanda menjadikan babi sebagai santapan mereka, karena
mereka hidup di tengah masyarakat Batak lantas mereka ikuti terbiasa
mengkonsumsi binatang ini tersebut sehingga belakangan menjadi
kebutuhan. Posisi daging kerbau, ayam, dan kambing serta ikan dari Danau
Toba perlahan kurang diminati. Dalam upacara adat dan kegiatan ritual
Batak, terbukti babi sebagai sajian dan itu diterapkan dalam kehidupan
komunitas Parbaringin, Parmalim, dan juga Parhabonaron di Simalungun. Di
komplek ritual seperti Parsaktian Pusuk Buhit dan cagar alam Dolog
Tinggi Raja sangat dipantangkan untuk membawa babi sebagai bekal makanan
bagi para pengunjung.
Selama
ini penulis sering bertanya dalam hati mengapa babi tidak pernah
populer dalam cerita rakyat Batak, binatang yang umum dikisahkan dalam
cerita rakyat Batak adalah kerbau, kambing, kuda, harimau, burung, ayam,
kucing, lembu, rusa, ular, gajah, anjing, dan ikan emas. Makanan
tradisional suku Simalungun, Pakpak, dan Karo adalah ayam, sedang pada
suku Toba yaitu ikan emas. Dalam cerita rakyat Simalungun dikisahkan
bahwa leluhur Purba Pakpak dari Tuntung Batu, Dairi sampai ke tanah
ulayat Purba Dasuha karena berburu seekor burung, demikian juga leluhur
Purba Girsang yang datang dari Lehu Dairi, demi mengejar seekor rusa
juga membawanya sampai ke tanah ulayat marga Sinaga di Naga Mariah
Silimakuta. Fenomena yang sama juga dialami Tuan Sindar Lela, leluhur
Purba Tambak, karena mengejar seekor burung menjadi jalan baginya
bertemu dengan saudarinya Puteri Hijau di tepi sungai Petani dekat Deli
Tua.
Demikian
juga, Tuan Pining Sori yang menjadi leluhur Saragih Garingging memiliki
seekor kerbau bernama Si Nangga Lutu, bersama kerbaunya ia pergi
melanglangbuana dari Ajinembah menuju tanah Simalungun hingga sampai ke
Raya Simbolon. Di antara keturunan marga Saragih yang disebut dengan
Simaronggang, ada yang menjadikan burung enggang sebagai binatang
peliharaannya. Leluhur Saragih Sumbayak pada zaman dahulu konon memiliki
seekor anjing kesayangan bernama Huring Parburu. Di antara keturunan
marga Damanik pada zaman dahulu ada yang bersahabat dengan seekor
harimau. Nyaris seluruh nenek moyang suku Batak khususnya Simalungun,
mereka hidup bergaul secara akrab dengan sejumlah binatang, bahkan tidak
jarang di antara binatang tersebut menjadi juru penyelamat di kala
tuannya mengalami ancaman dan kesulitan. Di kalangan etnis Toba
khususnya marga Simanjuntak melegenda kisah seekor kerbau yang
mengakibatkan perpecahan di kalangan mereka, sejak itulah awal munculnya
Simanjuntak Horbou Jolo dan Simanjuntak Horbou Pudi.
Dari
uraian singkat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak zaman dulu babi
tidak pernah dijadikan sebagai binatang peliharaan apalagi binatang
kesayangan. Meski babi sudah sejak lama hidup dan berkembang di tanah
Batak, namun dia tidak pernah menjadi konsumsi pokok nenek moyang suku
Batak seperti yang terjadi saat ini. Dia hanya dikonsumsi pada kondisi
mendesak di tengah minimnya bahan makanan. Hal inilah yang mendasari
sehingga babi tidak pernah melegenda dalam kearifan lokal suku Batak.
Kita
tidak pernah berpikir, menyadari, dan juga merenung bahwa banyak hal
dalam kehidupan budaya kita adalah hasil rancangan atau design dari
pihak kolonial untuk memecah persatuan dan kesatuan di antara suku Batak
di Sumatera Utara ini, merekalah yang membuat garis-garis batas wilayah
suku Batak dan juga melegitimasi penamaan etnis Batak berdasarkan
budaya dan bahasanya. Untuk memuluskan politik adu domba mereka, antara
etnis Minang, Melayu, dan Aceh didesign agar terpisah dengan Batak dan
dibangun sebuah opini agar mereka saling membenci. Karena urusan lambung
hubungan antara sesama etnis Batak yang berbeda keyakinan menjadi
renggang dan saling menjauh dan fakta ini sudah berlangsung selama
ratusan tahun.
KERBAU DAN BABI DALAM PERSPEKTIF ILMIAH
Sejarah Kerbau
Kerbau
(bubalus bubalis) merupakan jenis hewan yang termasuk famili bovidae
dan sudah dikenal sejak masa prasejarah, terbukti dari beberapa fragmen
tulang dan giginya yang ditemukan pada ekskavasi beberapa situs di
Indonesia. Di Sumatera situs-situs yang mengandung temuan tersebut
antara lain situs Gua Togindrawa, Nias dan Situs Bukit Kerang Pangkalan,
Aceh Tamiang. Di kedua situs yang merupakan situs mesolitik itu
menunjukkan adanya pengkonsumsian jenis hewan famili bovidae. Kemudian
di daerah lain yaitu pada situs megalitik juga ditemukan bagian gigi
kerbau (bovidae) pada kubur batu (phandusa) di Bondowoso, pada dolmen di
situs Telagamukmin, Lampung Utara, serta tulang-tulang hewan ini di
bawah menhir di Wonogiri (Sukendar, 1990 : 215). Kerbau dewasa dapat
memiliki berat sekitar 300 kg hingga 600 kg. Kerbau liar dapat memiliki
berat yang lebih, kerbau liar betina dapat mencapai berat hingga 800 kg
dan kerbau liar jantan dapat mencapai berat hingga 1200 kg. Berat
rata-rata kerbau jantan adalah 900 kg dan tinggi rata-rata di bagian
pundak kerbau adalah 1,7 m. Salah satu ciri yang membedakan kerbau liar
dari kerbau peliharaan untuk ternak adalah bahwa kerbau peliharaan
memiliki perut yang bulat. Dengan adanya percampuran keturunan antara
kerbau-kerbau antara populasi yang berbeda, berat badan kerbau dapat
bervariasi. Klasifikasi kerbau masih belum pasti, beberapa autoritas
mengelompokkan kerbau sebagai suatu spesies Bubalus bubalis dengan tiga
subspesies yaitu :
1. Kerbau liar (bubalus bubalis arnee) moyang bagi kerbau sungai.
2. Kerbau sungai (bubalus bubalis bubalis) yang berasal dari Asia Selatan.
3. Kerbau rawa (bubalus bubalis carabanesis) dari Asia Tenggara.
2. Kerbau sungai (bubalus bubalis bubalis) yang berasal dari Asia Selatan.
3. Kerbau rawa (bubalus bubalis carabanesis) dari Asia Tenggara.
Dapat
dikatakan bahwa kerbau merupakan binatang yang mempunyai nilai penting
dalam kehidupan masyarakat dari dulu hingga kini. Melalui data
ekofaktual yang ditemukan di situs-situs mesolitik kemungkinan jenis
hewan tersebut hidup liar di hutan Indonesia. Hewan tersebut diburu dan
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia pada masa itu.
Kemudian pada masa yang lebih muda bersamaan dengan terjadinya migrasi
manusia pada masa neolitik dan perundagian, ketika manusia sudah hidup
menetap domestikasi hewan dan tumbuhan juga dikembangkan. Migrasi
tersebut juga membawa religi yang dikenal dengan pendirian
bangunan-bangunan megalitnya sekitar 2500 SM -- 1500 SM -- awal Masehi.
Pendirian bangunan megalit tersebut juga disertai upacara-upacara
berkaitan dengan pemujaan roh-roh leluhur, atau berkaitan dengan
kematian dengan melaksanakan pemotongan hewan-hewan kurban diantaranya
kerbau. Berbagai tinggalan arkeologis di situs-situs megalit Sumatera
Selatan, Jawa Timur, dan Lampung menggambarkan pemanfaatan maupun
pembudidayaan kerbau. Masa yang sama jika dibandingkan dengan
pembudidayaan kerbau di luar Indonesia seperti di daratan Lembah Indus,
India (4500 tahun yang lalu), Cina (3500 tahun yang lalu), dan Mesir
(800 tahun yang lalu) (Aziz,1999:3).
Kerbau
Sumatera tidak banyak berbeda dengan kerbau Benggala. Sekalipun
termasuk famili bovidae anatomi hewan ini berbeda dengan sapi, kukunya
lebih lebar, dan tanduknya berbentuk bujursangkar atau gepeng melengkung
ke belakang. Umumnya tanduk sedatar dengan kening dan tidak membentuk
sudut seperti terdapat pada sapi. Ekor kecil menggantung sampai ke bawah
lutut, kecil, dan berjumbai di ujungnya. Lehernya besar dan berotot
sehingga penampakan gelambir hanya sedikit terlihat atau tidak sama
sekali (Marsden,1999:81). Kerbau merupakan hewan domestikasi yang sering
dikaitkan dengan kehidupan masyarakat bermatapencaharian di bidang
pertanian. Kerbau digunakan sebagai sarana transportasi (kendaraan),
untuk membantu mengolah lahan pertanian, dan kotorannya dapat dijadikan
pupuk (Gunadi,2000:60). Domestikasi kerbau dikaitkan dengan kebutuhan
hewan itu dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya
seperti tersebut di atas, juga dikonsumsi atau digunakan sebagai hewan
kurban pada upacara adat.
Secara
khusus domestikasi kerbau di Sumatera Utara belum diketahui, namun
melalui tinggalan arkeologis dan menjadi karya seni jenis hewan ini
sering dijumpai pada tinggalan-tinggalan budaya megalitik/tradisinya
dalam bentuk patung, relief, maupun lukisan. Pada punden berundak di
Situs Batu Gaja, Simalungun menunjukkan adanya domestikasi binatang
tersebut. Menilik kondisi situs ini, maka diperkirakan bahwa pemanfaatan
kerbau di Sumatera Utara sudah dikenal sejak budaya megalitik
berkembang di wilayah ini. Letak bangunannya pada tempuran dua buah
sungai mengingatkan pada konsep yang sering diterapkan dalam pembangunan
bangunan suci Hindu - Buddha. Situs tersebut merupakan situs megalitik
yang kemungkinan berkembang pada masa yang hampir sama ketika pengaruh
Hindu - Buddha berkembang di Padang Lawas sekitar abad ke 11-14 Masehi.
Bagi
masyarakat yang hidup dengan tradisi megalitik seperti Batak, kerbau
menjadi salah satu binatang yang memiliki derajat tinggi dalam kehidupan
sosial budaya Batak. Tidak hanya untuk dikonsumsi, organ tubuh binatang
ini dijadikan ornamen seni pada rumah tradisional Batak. Ornamen kerbau
pada masyarakat Batak merupakan lambang yang memiliki sifat sakral dan
profan. Sifat sakralnya diketahui melalui ornamen kerbau pada tinggalan
megalitik yang berkaitan dengan kubur batu, merupakan lambang kendaraan
(wahana) bagi arwah menuju ke dunia arwah. Ornamen kerbau juga
melambangkan kesuburan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat pendukung
megalitik bermatapencaharian di bidang pertanian. Selain itu ornamen
kerbau sering digambarkan pada rumah-rumah adat masyarakat Batak di
Sumatera Utara. Seperti pada rumah adat masyarakat Batak Simalungun
terdapat ornamen yang disebut Pinar Uluni Horbou yaitu berupa kepala
kerbau yang dibentuk dari ijuk dan tanduknya dari tanduk kerbau asli.
Pada masyarakat Simalungun kerbau merupakan lambang kesabaran,
keberanian, kebenaran, dan sebagai penangkal roh jahat
(Sipayung,dkk.,1994:18). Demikian halnya dengan masyarakat Batak Karo
juga mengenal ornamen sejenis berupa kepala kerbau berwarna putih yang
terbuat dari ijuk dan tanduk kerbau asli. Ornamen tersebut diletakkan
pada bagian ujung atapnya yang mengarah ke dua penjuru mata angin
(timur--barat) jika memiliki 2 ayo-ayo (hiasan atap), atau empat penjuru
mata angin (utara--timur—selatan--barat) jika memiliki 4 ayo-ayo.
Ornamen itu melambangkan keperkasaan dan penjaga keselamatan dari
serangan roh-roh jahat (Ginting & Sitepu,1994:18). Demikian halnya
dengan masyarakat Batak Toba pada ujung puncak atap bagian depan rumah
adat (sopo) dihiasi dengan motif Ulu palung (hiasan raksasa) yang
menggunakan tanduk kerbau. Hiasan tersebut merupakan lambang penjaga
keselamatan dari gangguan hantu. Khusus pada rumah raja, susunan tanduk
kerbau ditempelkan pada dinding bagian dalam sopo yang menandai
kekuasaan raja, sekaligus menggambarkan telah dilaksanakannya pesta
besar (mangalahat horbo = memotong kerbau). Selain itu juga dikenal
ornamen lain yang mirip kerbau yang disebut dengan Sijonggi (lembu
jantan) yang merupakan lambang keperkasaan (Hasanuddin, dkk.,1997:5,12).
Konsep
ornamen yang digunakan pada rumah adat terutama rumah adat Batak
terdapat kesamaan pandangan, yaitu secara mistis dikaitkan dengan
lambang penjaga keselamatan dari roh jahat dan lambang kepemimpinan
seperti keperkasaan/keberanian. Sedangkan makna kerbau bersifat profan
tergambar dari pandangan masyarakat bahwa kerbau merupakan hewan kurban
yang memiliki nilai paling tinggi dibandingkan hewan lain seperti babi.
Hal ini relevan dengan standar yang berlaku pada beberapa suku, di mana
kuantitas tanduk kerbau yang disematkan pada rumah adat melambangkan
tingginya kedudukan sosial (prestise) dan kekuasaan/kepemimpinan
pemiliknya. Banyaknya kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat,
menggambarkan kemampuan keluarga atau tingginya status sosial seseorang
di masyarakat. Hal itu tergambar secara simbolis pada banyaknya tanduk
kerbau yang dipajang pada rumah adat. Kepemilikan kerbau menandakan
prestise seseorang, semakin kaya dan tinggi status seseorang ditandai
seberapa banyak jumlah kerbau yang dimilikinya. Dalam acara peminangan,
kerbau biasa dijadikan sebagai mas kawin (sinamot). Pada masyarakat
Batak dikenal upacara kematian seperti sayur matua dan mangongkal holi
(menggali tulang)–memindahkan tulang dari kubur primer ke kubur
sekunder. Bagian dari rangkaian upacara tersebut biasanya dilaksanakan
pesta syukuran adat yang disertai dengan pemotongan kerbau. Sebelum
disembelih, kerbau diikat pada tiang yang disebut borotan,
serta diiringi dengan tarian tortor. Kemudian setelah kerbau disembelih
dagingnya dibagikan pada kerabat yang mengikuti upacara, berupa jambar
juhut (Simatupang, 2005:63–65).
Demikian
halnya pada upacara perkawinan, horja bius (acara penghormatan terhadap
leluhur), dan pendirian rumah adat. Kerbau juga disembelih; selain
sebagai hewan korban, juga sebagai pelengkap adat dalam pembagian jambar
(Wiradnyana & Somba, 2005:20). Pada pembagian pembagian jambar
juhut (hewan kurban) terdapat aturan tertentu yang disebut ruhut
papangan (Sihombing,1986 dalam Simatupang, 2005:88), yaitu:
a. Kepala (ulu) dan osang 3 untuk raja adat.
b. Leher (rungkung atau tanggalan ) untuk pihak boru.
c. Paha dan kaki (soit ) untuk pihak dongan sabutuha.
d. Punggung dan rusuk (panamboli ) & somba-somba untuk pihak hula-hula.
e. Bagian belakang (ihur-ihur) untuk pihak suhut.
Selain
itu, kerbau memiliki banyak fungsi di antaranya sebagai binatang yang
membantu untuk mengolah sawah, penghasil susu, penghasil daging,
penghasil pupuk, sebagai tabungan jangka panjang, sebagai bahan tekstil
(industri), dan terakhir kerbau berfungsi sebagai alat transportasi.
Peranan
kerbau dalam kegiatan pertanian dapat dikaitkan dengan perkembangan
sistem pertaniannya. Sistem pertanian yang dikenal semula pada masa
prasejarah adalah pertanian lahan kering (perladangan), kemudian
dkembangkan sistem pertanian lahan basah (persawahan). Menurut Brandes
bahwa penanaman padi di sawah telah dikenal di Indonesia sejak sebelum
pengaruh kebudayaan India menyebar di Indonesia (Brandes,1889 dalam
Ferdinandus,1990:426). Penanaman padi dengan sistem perladangan
diperkirakan dikenal di Indonesia jauh sebelumnya sekitar 2500 -- 1500
SM, yaitu bersamaan masuknya kebudayaan megalitik tua di Indonesia
(Geldern,1945:138--141). Pendapat lain menyebutkan bahwa penanaman padi
dengan sistem pengairan dikenal di Indonesia diduga pada jaman logam
(Marschall,1969 dalam Suryanto,1990:413). Bukti pendapat ini di beberapa
situs tingkat perundagian ditemukan beberapa alat-alat besi yang
diperkirakan digunakan pada kegiatan itu. Misalnya, dalam kubur peti
batu di situs Kawengan, Kidangan, dan Gunungmas di Bojonegoro dan situs
Gunungsigro di Tuban, Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan adalah kapak,
beliung, ujung tombak, mata sabit dan mata pisau (Suryanto,1990:412).
Ditambahkan bahwa sistem persawahan di Bali misalnya, pada tingkat
perundagian telah dilaksanakan di kaki-kaki pegunungan yaitu pada tempat
yang mudah diatur pengairannya (Soejono,1977:322). Dengan demikian pada
jaman logam atau perundagian diperkirakan kerbau telah dimanfaatkan
untuk membantu kegiatan pertaniannya.
Mengenai
perkembangan pertanian, sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha abad ke
XI–XIV Masehi, kegiatan pertanian sudah dilaksanakan oleh masyarakatnya,
kemudian bersamaan dengan teknologi yang masuk kegiatan itu semakin
berkembang, terutama pada peralatan yang dimanfaatkannya. Kemungkinan
adanya perkembangan teknologi pertaniannya dapat dikaitkan dengan adanya
tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak pada sebagian
masyarakat Sumatera utara, serta pemanfaatan peralatan lebih sederhana
yang digerakkan oleh manusia seperti tenggala roda dan sisir kayu
(Susilowati,2003:49).
Tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak diketahui masih dilakukan hingga kini oleh sebagian masyarakat di Barus dan Tapanuli Selatan, yaitu dengan menggiring kerbau (sekitar 8 -- 12 ekor) berkeliling pada lahan sawah secara berulang-ulang. Banyaknya kerbau yang digunakan menggambarkan banyaknya populasi kerbau yang diternakkan oleh satu keluarga inti di tempat tersebut. Sekalipun tidak banyak lahan sawah yang diusahakan di Samosir tempat komunitas subetnis Batak Toba misalnya, populasi kerbau sebagai hewan ternak juga cukup banyak. Hal ini disebabkan banyaknya kebutuhan kerbau sebagai hewan kurban yang menyertai upacara adat yang diselenggarakan masyarakatnya.
Sejarah Babi
Pendapat
umum menyatakan bahwa bangsa babi merupakan hewan yang paling awal
dijinakkan, bukan kucing ataupun anjing. Hal ini ditunjukkan dengan
adanya penemuan lukisan dan ukiran babi yang berumur lebih dari 25.000
tahun yang lalu. Asal-usul ternak babi yang dikenal sekarang adalah
keturunan dari dua jenis babi liar; Sus Vittatus dari India timur, Asia
Tenggara, China dan Sus Scrofa dari Eropa yang didomestikasi pada 4900
tahum SM. Hingga kini masih ditemukan 2 (dua ) spesies babi liar ini
hidup bergerombol dan membentuk kelompok besar di hutan Eropa dan India
Timur. Data terakhir menunjukkan bahwa sudah ada 25 sub spesies Sus
Scrofa yang diketahui, dan perkembangannya telah beradaptasi dengan
lingkungan lokal. Babi lokal (indigenous) diberbagai daerah tropis
sekarang ini sulit dijumpai karena pada umumnya telah mengalami grading
up dengan babi ras atau breed eksotik yang berasal dari Ingris, Amerika
dan Skandinavia; karena babi ras ini ternyata lebih cocok untuk daerah
tropis.
Adapun
jenis babi yang ada di Indonesia sangat beragam, mulai dari babi lokal
maupun babi yang didatangkan dari mancanegara (import). Babi asli
Indonesia adalah babi hutan yang masih banyak berkeliaran di
hutan-hutan. Babi yang sekarang ada di Indonesia adalah keturunan babi
hutan dengan ciri khas umumnya; liar, warna hitam dan dipelihara secara
ekstensif, bebas berkeliaran di sekitar perkampungan. Bangsa babi asli
Indonesia adalah babi Bali, babi Karawang, babi Sumba dan babi Nias.
1. Babi Bali

Ciri-ciri:
- Warna hitam dan bulu agak kasar
- Bentuk tubuh dan kepala kecil
- Punggung lentik
- Perut hampir menyusur tanah
- Kaki pendek
- Cungurnya relative pendek
- Telinga kecil dan berdiri tegak
- Warna hitam dan bulu agak kasar
- Bentuk tubuh dan kepala kecil
- Punggung lentik
- Perut hampir menyusur tanah
- Kaki pendek
- Cungurnya relative pendek
- Telinga kecil dan berdiri tegak
2. Babi Karawang

Ciri-ciri:
- Kepala kecil
- Telinga kecil dan berdiri tegak
- Tulang belakang lemah dan agak panjang
- Perut hampir menyusur ke tanah
- Kaki pendek
- Warna belang, atas hitam dan bagian bawah putih
- Kepala kecil
- Telinga kecil dan berdiri tegak
- Tulang belakang lemah dan agak panjang
- Perut hampir menyusur ke tanah
- Kaki pendek
- Warna belang, atas hitam dan bagian bawah putih
3. Babi Sumba

Ciri-ciri:
- Warna hitam ( kadang berwarna merah kehitaman )
- Mempunyai bentuk fisik menyerupai babi hutan
- Badan sedang pendek namun dalam
- Bentuk kepala lonjong
- Moncong lancip
- Telinga kecil berdiri
- Warna hitam ( kadang berwarna merah kehitaman )
- Mempunyai bentuk fisik menyerupai babi hutan
- Badan sedang pendek namun dalam
- Bentuk kepala lonjong
- Moncong lancip
- Telinga kecil berdiri
4. Babi Nias

Ciri-ciri:
- Badan sedang
- Kepala lebih pendek dari babi sumba
- Telinga kecil dan berdiri tegak
- Mulut runcing
- Bulu agak tebal terutama pada leher dan bahu
- Warna putih atau belang hitam
- Kepala lebih pendek dari babi sumba
- Telinga kecil dan berdiri tegak
- Mulut runcing
- Bulu agak tebal terutama pada leher dan bahu
- Warna putih atau belang hitam
Babi Impor
Pada
saat ini ada beberapa babi impor yang didatangkan dari Luar negeri dan
telah berkembang di Indonesia yaitu Babi VDL (Veredeld Duits
Landvarken), Babi Yorkshire dikenal dengan nama Large White, Babi
Tamworth, Babi Saddle Back , Babi Landrace dan Babi Duroc.
1. VDL (Veredeld Duits Landvarken)

Ciri-ciri:
- Kepala besar agak panjang
- Telinga besar panjang, setengah bergantung ke muka sejajar dengan kepala
- Badan besar
- Daging banyak
- Kepala besar agak panjang
- Telinga besar panjang, setengah bergantung ke muka sejajar dengan kepala
- Badan besar
- Daging banyak
2. Babi Yorkshire (Large White)

Ciri-ciri:
- Warna putih, kadang-kadang terdapat bercak-bercak dengan pigmen warna hitam
- Telinga tegak
- Kepala/muka berbentuk seperti mangkuk
- Badan besar panjang dalam dan halus
- Efisiensi penggunaan pakan tinggi
- Pertumbuhan cepat
- Mampu menghasilkan karkas yang panjang (31,5 inchi)
- Warna putih, kadang-kadang terdapat bercak-bercak dengan pigmen warna hitam
- Telinga tegak
- Kepala/muka berbentuk seperti mangkuk
- Badan besar panjang dalam dan halus
- Efisiensi penggunaan pakan tinggi
- Pertumbuhan cepat
- Mampu menghasilkan karkas yang panjang (31,5 inchi)
3. Babi Tamworth

Babi Tamworth adalah babi penghasil daging bermutu tinggi yang berasal dari Inggris (kota Tamworth).
Ciri – ciri:
- Warna merah tua atau kecoklatan
- Kepala lebar yaitu jarak antara telinga lebar sedangkan bagian bawah runcing
- Moncong agak panjang lurus
- Telinga tegak dan sedang,
- Tulang belakang kuat
- Tubuh besar
- Kaki sedikit panjang
- Warna merah tua atau kecoklatan
- Kepala lebar yaitu jarak antara telinga lebar sedangkan bagian bawah runcing
- Moncong agak panjang lurus
- Telinga tegak dan sedang,
- Tulang belakang kuat
- Tubuh besar
- Kaki sedikit panjang
4. Babi Saddleback

Ciri – ciri:
- Warna hitam tetapi bagian bahunya berwarna putih sampai pada kaki
- Kepala sedang dan halus
- Telinga tegak
- Rahang rata
- Punggung berbentuk busur
- Warna hitam tetapi bagian bahunya berwarna putih sampai pada kaki
- Kepala sedang dan halus
- Telinga tegak
- Rahang rata
- Punggung berbentuk busur
5. Babi Landrace

Ciri – ciri:
- Warna putih dan bulu halus
- Tubuh panjang
- Telinganya terkulai rebah ke depan
- Induk mempunyai sifat keibuan yang tinggi dan dikenal memberikan anak yang banyak
- Warna putih dan bulu halus
- Tubuh panjang
- Telinganya terkulai rebah ke depan
- Induk mempunyai sifat keibuan yang tinggi dan dikenal memberikan anak yang banyak
6. Babi Duroc

Ciri – ciri:
- Berwarna merah sampai kecoklatan dengan berbagai variasinya
- Daun telinga berukuran sedang, agak rebah ke depan dengan dua pertiganya tegak dan sepertiga telinga tegak
- Berwarna merah sampai kecoklatan dengan berbagai variasinya
- Daun telinga berukuran sedang, agak rebah ke depan dengan dua pertiganya tegak dan sepertiga telinga tegak
Tinjauan Medis
Penelitian
medis banyak menggunakan babi, karena secara anatomi dan fisiologi
(fungsi) mirip hingga 90 persen dengan manusia, walaupun sistemnya
berbeda. Babi adalah pemakan segala (omnivora) seperti manusia di mana
ukuran dan fungsi jantung, ginjal dan pankreas babi mirip manusia. Di
alam liar, babi termasuk hewan pemakan bangkai. Mereka akan memakan apa
saja termasuk juga kotoran, makanan busuk, bangkai, dan bahkan mereka
memakan tumor atau daging lebih yang berasal dari babi lainnya. Sistem
pencernaan babi memang agak mengesankan, tetapi tidak selalu dapat
menyaring zat-zat beracun dari semua yang mereka makan. Sistem
pencernaan babi mampu menyelesaikan proses mencerna makanan hanya dalam
waktu 4 jam, sehingga racun yang mereka makan akan disimpan di dalam
lemak. Racun tersebut mungkin tidak berbahaya bagi babi, tetapi bagi
kami, itu hal yang berbeda. Berdasarkan penyelidikan sebuah Consumer
Reports, dari 200 sampel daging babi mentah, 69 persen telah
terkontaminasi, mengandung bakteri berbahaya seperti Yersinia
Enteroclitica yang dapat menyebabkan penyakit serius. Ground pork bahkan
lebih buruk, mengandung kontaminan lain seperti Ractopamine [1] yang
merupakan obat terlarang yang dicekal di China dan Eropa. Menurut
laporan tersebut, "Kami menemukan Salmonella, Staphylococcus Aureus,
atau Listeria Amonocytogenes, yang merupakan penyebab utama dari
penyakit bawaan makanan [2], dalam 3 sampai 7 persen sampel. Dan 11
persen mengandung Enterococcus, yang menunjukkan adanya kontaminasi
tinja dan dapat menyebabkan masalah seperti infeksi saluran kemih."
Babi juga merupakan sarangnya berbagai parasit yang dapat menular langsung ke tubuh manusia seperti Taenia Solium, yaitu parasit usus yang dapat menimbulkan infeksi dan menyebabkan hilangnya nafsu makan, serta terdapat juga virus seperti Hepatitis E dan Trichinella. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya kembali jika berada di hadapannya,. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan.
Babi juga merupakan sarangnya berbagai parasit yang dapat menular langsung ke tubuh manusia seperti Taenia Solium, yaitu parasit usus yang dapat menimbulkan infeksi dan menyebabkan hilangnya nafsu makan, serta terdapat juga virus seperti Hepatitis E dan Trichinella. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya kembali jika berada di hadapannya,. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan.
Lemak
punggung babi tebal, babi memiliki back fat (lemak punggung) yang
lumayan tebal. Konsumen babi sering memilih daging babi yang lemak
punggungnya tipis, karena semakin tipis lemak punggungnya, dianggap
semakin baik kualitasnya. Sifat lemak punggung babi adalah mudah
mengalami oxidative rancidity, sehingga secara struktur kimia sudah
tidak layak dikonsumsi. Daging babi karena banyak mengandung lemak,
meskipun empuk dan terlihat begitu lezat, namun sangat sulit dicerna.
Selain itu, daging babi menyebabkan banyak penyakit : pengerasan pada
urat nadi, naiknya tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (angina
pectoris), dan radang pada sendi-sendi. Penelitian ilmiah modern di dua
negara Timur & Barat, yaitu Cina dan Swedia. Cina, dan Swedia
(mayoritas penduduknya sekuler) menyatakan: "Daging babi merupakan
penyebab utama kanker anus dan kolon. Persentase penderita penyakit ini
di negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis,
terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara
Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam,
persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini
dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang
Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.
Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya, sehingga dikatakan sebagai Reservoir Penyakit. Gara-gara babi, virus Avian Influenza jadi ganas. Virus normal AI (Strain H1N1 dan H2N1) tidak akan menular secara langsung ke manusia. Virus AI mati dengan pemanasan 60oC lebih-lebih bila dimasak hingga mendidih. Bila ada babi, maka dalam tubuh babi, Virus AI dapat melakukan mutasi dan tingkat virulensinya bisa naik hingga menjadi H5N1. Virus AI Strain H5N1 dapat menular ke manusia. Virus H5N1 ini pada Tahun 1968 menyerang Hongkong dan membunuh 700.000 orang (diberi nama Flu Hongkong). Sekitar tahun 2001 pernah terjadi para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi. Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Telur cacing tersebut menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak.
Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya, sehingga dikatakan sebagai Reservoir Penyakit. Gara-gara babi, virus Avian Influenza jadi ganas. Virus normal AI (Strain H1N1 dan H2N1) tidak akan menular secara langsung ke manusia. Virus AI mati dengan pemanasan 60oC lebih-lebih bila dimasak hingga mendidih. Bila ada babi, maka dalam tubuh babi, Virus AI dapat melakukan mutasi dan tingkat virulensinya bisa naik hingga menjadi H5N1. Virus AI Strain H5N1 dapat menular ke manusia. Virus H5N1 ini pada Tahun 1968 menyerang Hongkong dan membunuh 700.000 orang (diberi nama Flu Hongkong). Sekitar tahun 2001 pernah terjadi para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi. Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Telur cacing tersebut menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak.
Dan
ketika cacing itu sampai di otak, maka ia menyebabkan sakit yang ringan
pada awalnya, hingga akhirnya mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal
ini menyebabkan dis-fungsi yang sangat keras pada susunan organ di
daerah yang mengelilingi cacing itu di otak. Penyakit-penyakit "cacing
pita" merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui
konsumsi daging babi. Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh
manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa.
Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar "1000 ekor dengan panjang antara 4 - 10 meter", dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar). DR Murad Hoffman, Daniel S Shapiro, MD, seorang Pengarah Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center, Massachusetts, dan juga merupakan asisten Profesor di Pathology and Laboratory Medicine, Boston University School of Medicine, Massachusetts, Amerika menyatakan terdapat lebih dari 25 penyakit yang bisa dijangkiti dari babi, di antaranya:
-Anthrax
-Ascaris suum
-Botulism
-Brucella suis
-Cryptosporidiosis
-Entamoeba polecki
-Erysipelothrix shusiopathiae
-Flavobacterium group IIb-like bacteria
-Influenza
-Leptospirosis
-Pasteurella aerogenes
-Pasteurella multocida
-Pigbel
-Rabies
-Salmonella cholerae-suis
-Salmonellosis
-Sarcosporidiosis
-Scabies
-Streptococcus dysgalactiae (group L)
-Streptococcus milleri
-Streptococcus suis type 2 (group R)
-Swine vesicular disease
-Taenia solium
-Trichinella spiralis
-Yersinia enterocolitica
-Yersinia pseudotuberculosis
-Ascaris suum
-Botulism
-Brucella suis
-Cryptosporidiosis
-Entamoeba polecki
-Erysipelothrix shusiopathiae
-Flavobacterium group IIb-like bacteria
-Influenza
-Leptospirosis
-Pasteurella aerogenes
-Pasteurella multocida
-Pigbel
-Rabies
-Salmonella cholerae-suis
-Salmonellosis
-Sarcosporidiosis
-Scabies
-Streptococcus dysgalactiae (group L)
-Streptococcus milleri
-Streptococcus suis type 2 (group R)
-Swine vesicular disease
-Taenia solium
-Trichinella spiralis
-Yersinia enterocolitica
-Yersinia pseudotuberculosis
Daftar Pustaka:
Gunadi.
Kerbau di Beberapa Suku Bangsa Indonesia: Suatu Tinjauan Antropologi
Ekonomi. Ujung Pandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi
Sulawesi Selatan dan Tenggara. 2000
Hasanuddin,
Samaria Ginting, dan Lisna Budi Setiati. Ornamen (Ragam Hias) Rumah
Adat Batak Toba. Medan: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera
Utara. 1997
Marsden, William. Sejarah Sumatra, diterjemahkan oleh A.S Nasution dan Mahyuddin Mendim. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1999
Sipayung,
Hernauli dan Lingga, Andreas. Ragam Hias (Ornamen) Rumah Tradisional
Simalungun. Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara. 1994
Sukendar,
Haris. Seni Lukis Prasejarah antara Estetika dan Religius, dalam:
Kebudayaan No. 10. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996
Wiradnyana,
Somba, dan Nani. Fungsi dan Makna Kerbau dalam Tradisi Megalitik di
Sebagian Wilayah Indonesia. Makassar: Balai Arkeologi Makassar. 2005










